I.
PERANG TELUK I
Perang Iran-Irak juga dikenali sebagai Pertahanan Suci
dan Perang Revolusi Iran diIran, dan Qadisiyyah Saddam di Irak, adalah perang di antara Irak dan Iran yang
bermula pada bulan September 1980 dan berakhir pada bulan Agustus 1988. Kemudian pada awal 1990-an Konflik
Iraq-Kuwait meletus
dan pada Umumnya, dikenali sebagai Perang Teluk Persia atau Gulf War .
Walaupun perang Iran-Irak yang dimulai dari tahun 1980-1988
merupakan perang yang terjadi di wilayah Teluk Persia, akar dari masalah ini
sebenarnya dimulai lebih dari berabad-abad silam. Berlarut-larutnya permusuhan
yang terjadi antara kerajaan Mesopotamia(terletak di lembah sungai
Tigris-Eufrat, yang kini menjadi sebuah negara Irak modern) dengan kerajaan
Persia atau negara Iran modern.
Iran dan Irak merupakan dua negara yang bertetangga, namun
keduanya tidak dapat saling akur, hal ini disebabkan karena keduanya merasa
sama – sama lebih unggul. Hal ini diperjelas lagi setelah kemenangan kaum
revolusioner di Iran yang berhasil menumbangkan rezim monarki dan menggantinya
menjadi negara Republik Islam Iran serta ingin mengekspor revolusinya ke negara
negara – negara Arab lainnya yang masih berbentuk monarki. Hal ini mendorong
Irak untuk tampil sebagai juru selamat bangsa Arab dari ancaman invasi revolusi
Iran.
A.
Faktor-Faktor yang
Menyebabkan Terjadinya Perang Teluk I
Ada
beberapa hal yang disebut-sebut memicu
meletusnya perang antara Irak melawan Iran di mana hal-hal tersebut menyangkut
berbagai aspek, utamanya aspek polit ik & sektarian :
1.
Sengketa Atas Shatt al-Arab &
Khuzestan
Shatt
al-Arab adalah sungai sepanjang 200 km yang terbentuk dari pertemuan Sungai Efrat & Tigris di kota Al-Qurnah, Irak selatan,
dimana bagian akhir dari sungai yang mengarah ke Teluk Persia tersebut terletak
di perbatasan Irak & Iran. Sungai tersebut
utamanya penting bagi Irak karena merupakan jalan keluar utama negara
tersebut ke arah laut.
Karena
letaknya yang berada di perbatasan & posisi strategisnya yang mengarah ke
Teluk Persia, sungai tersebut menjadi
bahan sengketa Irak & Iran. Sebelum perang antara kedua meletus, sejak
tahun 1975 sungai tersebut menjadi milik
kedua negara di mana batasnya adalah pada titik terendah sungai berdasarkan
Persetujuan Aljier (Algier Accord).
Wilayah
lain yang menjadi sengketa kedua negara adalah provinsi Khuzestan yang kaya
minyak. Wilayah tersebut selama ini menjadi wilayah Iran, namun sejak tahun
1969 Irak mengklaim bahwa Khuzestan berada di tanah Irak & wilayah
tersebut diserahkan ke Iran ket ika Irak
dijajah oleh Inggris. Lebih lanjut , stasiun TV milik Irak bahkan memasukkan
Khuzestan sebagai wilayah Irak & menyerukan warga Arab di sana untuk memberontak
melawan Iran.
2.
Munculnya Revolusi Islam di Iran
Tahun
1979 merupakan tahun terpent ing dalam sejarah Iran modern hingga menjadi
seperti Iran sekarang. Di tahun itu, terjadi revolusi pemerintahan di mana
rezim kerajaan Pahlevi yang dianggap sebagai rezim boneka AS tumbang &
digantikan oleh sistem republik Islam. Pasca revolusi tersebut , muncul
kekhawatiran dikalangan nasionalis Arab & Muslim Sunni bahwa revolusi
tersebut akan menyebar ke negara-negara Arab di sekitarnya. Kekhawatiran
terbesar terutama datang dari Irak yang wilayahnya memang bersebelahan dengan Iran
& memiliki penganut Syiah berjumlah
besar di wilayahnya.
Ayatullah
Khomeini, pemimpin revolusi Islam di Iran, memang memiliki impian untuk
menyebarkan pengaruh revolusinya ke negara-negara Arab lainnya. Pertengahan
tahun 1980, Khomeini menyebut bahwa pemerintahan
sekuler Irak adalah pemerintahan "boneka setan" & masyarakat Muslim di Irak sebaiknya bersatu untuk
mewujudkan revolusi Islam seperti di Iran. Pernyataan Khomeini tersebut sekaligus sebagai respon dari pernyataan
Saddam pasca revolusi Islam Iran yang menyatakan bahwa bangsa Persia (Iran) tidak
akan berhasil membalas dendam kepada bangsa Arab sejak Pertempuran
al-Qadisiyyah, pertempuran pada abad ke-7 yang dimenangkan oleh bangsa Arab sekaligus
menumbangkan Kerajaan Persia kuno.
Irak
di bawah kendali Saddam Hussein & Partai Baath memiliki ambisi untuk
menjadi kekuatan dominan di wilayah Arab di bawah bendera pan Arabisme sejak
meninggalnya Presiden Mesir, Gamal A. Nasser. Revolusi Islam yang terjadi di
Iran tersebut dianggap sebagai penghalang karena bertentangan dengan prinsip
nasionalisme sekuler Arab. Selain untuk mencegah menyebarnya revolusi Islam,
Irak juga berusaha mengambil keuntungan dengan kondisi internal Iran yang tidak
stabil pasca revolusi Islam untuk merebut
wilayah-wilayah yang menjadi bahan sengketa dengan Iran & menambah
sumber minyak Irak.
3.
Percobaan Pembunuhan Terhadap
Pejabat Irak
Pertengahan
tahun 1980, terjadi percobaan pembunuhan kepada Deputi Perdana menteri Irak,
Tariq Aziz. Irak kemudian menangkap sejumlah orang yang diduga terlibat atas
percobaan pembunuhan tersebut & mendeportasi
ribuan warga Syiah berdarah Iran keluar dari Irak. Pemimpin Irak, Saddam
Hussein, menyalahkan Iran sambil menyebut
ada agen Iran yang terlibat dalam
peristiwa tersebut . Peristiwa itu selanjutnya semakin memanaskan hubungan
kedua negara hingga akhirnya pada bulan September 1980, Irak melancarkan
serangannya ke Iran.
Dapat
pula disebutkan sebab umum dan sebab khusus perang Teluk I. Sebab umum perang perang Iran
– Irak antara lain :
1) Kedua negara tidak mau mengakui
keunggulan masing – masing.
2) Masalah minoritas etnis.
3) Perbedaaan orientasi politik luar
negeri
4) Irak beruasaha untuk merebut kembali
beberapa daerah Arab yang telah di klaim oleh Iran (Shatt al – Arab dan tiga
pulau kecil di selat Hormus menurut perjanjian Algiers tahun 1975).
Sedangkan sebab khusus Perang Iran – Irak antara lain :
1)
Adanya serangan granat pada tanggal 1 April 1980
terhadap wakil PM Irak Tariq Aziz yang diduga didalangi oleh Iran.
2)
Adanya pengusisran ribuan keturunan Iran oleh sadam,
serta melancarkan serangan yang sengit terhadap pribadi Khomeini dan
membatalkan perjanjian Algiers. Sedangkan Menlu Iran Shodeh Godzadeh berjanji
untuk menumbangkan rezim Baath yang berkuasa di Irak serta memutuskan hubungan
diplomatik.
3)
Kedua negara saling menempatkan pasukan masing –
masing di daerah perbatasan dalam jumlah yang cukup besar (Subaryana, 1997 : 28
– 29).
B. Kronologi
Terjadinya Perang Teluk I
Dalam
melancarkan serangannya tersebut, terjadi penyerbuan-penyerbuan yang dilakukan
untuk mendapatkan daerah-daerah yang diinginkan. Bermacam-macam cara dilakukan
untuk sebuah kemenangan.
1.
Tahun 1980-1982 : Penyerbuan Oleh Irak
Ada
2 sasaran Irak dalam serangannya ke Iran : menguasai wilayah-wilayah strategis
serta kaya minyak di Iran & mencegah tersebarnya revolusi Islam ke
negara-negara sekitarnya. Dalam serangannya, Irak menginginkan kemenangan
cepat atas Iran dengan memanfaatkan
situasi internal Iran yang masih belum stabil pasca revolusi Islam. Irak juga
berharap kalau masyarakat di Iran akan
menyalahkan pemerintahan baru negaranya sehingga sebagian dari mereka terutama
dari golongan Arab Sunni - kemudian akan
membelot kepada Irak.
Tanggal
22 September 1980, jet-jet tempur Irak menyerang 10 pangkalan udara milik Iran
dengan tujuan menghancurkan pesawat
tempur Iran di darat, taktik yang dipelajari dari kemenangan Israel atas
Arab dalam Perang 6 Hari. Serangan dari pasukan udara Irak berhasil
menghancurkan gudang amunisi & jalur transportasi darat, namun sebagian
besar pesawat Iran tetap utuh karena
terlindung dalam hanggar yang terlindungi secara khusus. Kegagalan Irak
menghancurkan pesawat-pesawat tempur
Iran dalam serangan kejutan tersebut
memberi peluang bagi Iran untuk melancarkan serangan udara balasan ke
Irak.
Sehari
kemudian, Irak melakukan serangan darat
ke wilayah Iran dari 3 front
sekaligus. Inti dari serangan tersebut
adalah untuk menguasai Khuzestan & Shat t al-Arab di mana 4 dari 6 divisi pasukan Irak
dalam penyerbuan dikirim untuk menguasai kedua wilayah tersebut. Sisanya
dipecah jadi 2 untuk menguasai front utara (Qasr-e Shirin) & f ront tengah (Mehran) untuk mengantisipasi serangan
balik yang mungkin dilakukan oleh Iran. Hasilnya, usai serangan mendadak itu
Irak berhasil menguasai wilayah Iran seluas 1.000 km persegi.
Bulan
November 1980, pasukan Irak melancarkan serangan ke 2 kota penting yang
strategis di Iran selatan, Shabadan & Khorramshahr. Dalam penyerbuannya
itu, pasukan Irak mendapat perlawanan
sengit dari pasukan Pasdaran (Garda Revolusi) Iran. Kedua kota tersebut
akhirnya berhasil dikuasai Irak pada tanggal 10 November 1980. Tercatat belasan ribu pasukan dari kedua kubu terbunuh
dalam pertempuran di kedua kota tersebut. Keberhasilan Irak menguasai kedua
kota tersebut sekaligus menjadi
keberhasilan terakhir Irak mencaplok wilayah mayor dari Iran.
Iran
yang tertekan sempat berusaha melakukan
serangan balasan kepada Irak pada awal tahun 1981, namun gagal karena presiden
Iran, Bani Sadr, nekat memimpin langsung
pasukan reguler Iran sekalipun dia hanya memiliki pengetahuan militer yang
minim. Ia mengirimkan 3 resimen pasukan reguler tanpa didukung oleh Pasdaran
& tidak memperhitungkan waktu serangan di saat hujan yang bakal menyulitkan
suplai logistik. Akibatnya, pasukan Iran dikepung pasukan Irak & banyak
dari kendaraan lapis baja Iran yang hancur atau perlu ditinggalkan karena
terjebak dalam lumpur.
Serangan
balasan Iran yang jauh lebih efektif
sebenarnya sudah dilakukan beberapa hari sejak Irak pertama kali
membombardir pangkalan udara milik Iran. Pesawat-pesawat F-4 milik Iran melakukan serangan ke wilayah
Irak & secara efektif berhasil
melumpuhkan sejumlah titik penting di sana. Keberhasilan tersebut membuat pasukan udara Iran terlihat lebih superior dibandingkan pasukan udara
Irak. Namun, kurangnya amunisi & suku cadang yang hanya bisa didapatkan
dari AS negara sekutu Iran yang berbalik
memusuhi Iran pasca revolusi Islam
membuat Iran seiring waktu jadi
lebih banyak memakai helikopter yang dipasangi persenjataan darat sebagai pendukung pasukan dari udara.
2.
Tahun 1982 : Titik Balik & Mundurnya
Irak
Pasukan
Irak dalam serangan kilatnya berhasil memanfaatkan momentum lemahnya koordinasi
pasukan Iran & problem alutsista milik Iran sehingga para pengamat yakin
bahwa perang akan segera berakhir dengan kemenangan Irak hanya dalam waktu
beberapa minggu. Plus, Irak memang berhasil menguasai wilayah-wilayah strategis
Iran dalam serangannya itu. Namun, Iran enggan menyerah begitu saja & dalam
perkembangannya berhasil memukul balik Irak.
Problem
bagi Iran dalam perang adalah dari segi alutsista atau persenjataan, mereka
kalah superior dibanding Irak yang saat
itu memang merupakan salah satu negara dengan kekuatan militer terbaik di
Timur Tengah selain Israel. Untuk mengantisipasinya, sejak perang meletus Iran
merekrut ratusan ribu milisi sukarela yang disebut Basij (Tentara Rakyat).
Basij tidak memiliki pengalaman militer & persenjataan yang memadai, namun
mereka memiliki keyakinan sangat tinggi akan agamanya & tidak segan-segan
melakukan tindakan berani mati semisal menerobos ladang ranjau atau area yang
dihujani tembakan artileri musuh saat
diperintahkan.
Pasukan
Irak di wilayah Iran dalam perkembangannya tidak bisa bergerak lebih jauh lagi
sejak bulan Maret 1981 setelah pasukan mereka dikalahkan oleh milisi Basij yang
jumlahnya mencapai ribuan di Sungai Kanun. Sejak itu, Irak lebih banyak
melakukan taktik defensif untuk
mempertahankan wilayah taklukan mereka & hanya terjadi sedikit pergeseran di garis depan. Faktor utamanya
adalah kesalahan prediksi di mana Irak memperkirakan warga Arab Sunni di Iran
bakal membantu mereka. Namun faktanya, mereka bersama rakyat Iran lainnya
justru bersatu dan bahu-membahu melawan Irak.
Titik
balik bagi Iran terjadi pada bulan Maret
1982 dalam operasi militernya di bawah kode sandi "Operasi
Kemenangan yang Tak Dapat
Disangkal" (Operation
Undeniable Victory). Dalam operasi militer tersebut , pasukan gabungan
Pasdaran-Basij milik Iran berhasil menembus garis depan pasukan Irak yang
sebelumnya dianggap tidak bisa ditembus & memecah pasukan Irak di utara
& selatan Khuzestan sehingga pasukan Irak terpaksa mundur.
Bulan
Mei 1982, Iran berhasil merebut kembali
wilayah Khorramshahr. Dalam pertempuran memperebutkan wilayah tersebut , Irak
kehilangan 7.000 tentara, sementara Iran 10.000 sehingga menjadikan pertempuran
itu sebagai salah satu pertempuran paling berdarah dalam inisiatif serangan balik Iran. Sejak kemenangan tersebut
, Iran berganti menjadi pihak yang menekan Irak dan pada bulan Juni berhasil
mendapatkan kembali seluruh wilayahnya yang sebelumnya dikuasai oleh Irak.
Saddan
Hussein yang melihat bahwa moral
pasukannya sudah terlanjur runtuh akibat
serangkaian kekalahan melawan Iran pun menyatakan akan segera menarik
seluruh pasukannya dari Iran & menawarkan gencatan senjata kepada Iran.
Tawaran gencatan senjata itu mencakup pembayaran ganti rugi perang sebesar 70
juta dollar AS oleh negara-negara Arab. Iran menolak tawaran gencatan senjata
tersebut sambil menyatakan bahwa mereka
akan menyerbu Irak & tidak akan berhenti sampai rezim yang berkuasa di Irak
digantikan oleh pemerintahan republik Islam.
3.
Tahun 1982-1988 : Penyerbuan Oleh Iran
Bulan
Juli 1982, Iran melancarkan serangannya ke kota Basra, Irak, di bawah kode
sandi "Operasi Ramadhan". Dalam serangan tersebut, puluhan ribu
anggota Basij & Pasdaran mengorbankan diri mereka dengan berlari melewati
ladang ranjau untuk memberi jalan bagi tank-tank di belakangnya di mana selain
menghadapi bahaya ranjau, mereka juga dihujani tembakan artileri pasukan Irak.
Irak berhasil mencegah Iran merengsek lebih jauh berkat ketangguhan
persenjataannya di garis pertahanan, namun Irak juga harus kehilangan sejumlah
kecil wilayah karena dikuasai Iran.
Keberhasilan
Iran memukul balik Irak & berbalik menjadi negara penyerbu membawa kekhawat
iran tersendiri bagi AS yang kemudian memutuskan untuk membantu Irak sejak
tahun 1982. Presiden AS, Ronald Reagan, menyatakan bahwa negaranya akan
berusaha membantu dengan cara apapun untuk mencegah Irak kalah. Selain dari AS,
dukungan untuk Irak juga datang dari Uni Soviet
& Liga Arab. Di lain pihak, Iran sendiri selama perang hanya
mendapat dukungan secara terbuka dari Suriah & Libya.
Karena
keberpihakan terang-terangan AS ke Irak, maka cukup mengejutkan ketika AS
diketahui juga membantu Iran dengan jalan menjual persenjataan ke Iran secara
diam-diam (dikenal sebagai skandal Iran-Contra). Henry Kissinger, salah satu
tokoh penting Gedung Putih, menyatakan
bahwa AS merasa baik Irak & Iran sama-sama tidak boleh kalah untuk mencegah
dominasi dari pihak pemenang di kawasan tersebut. Israel juga dikabarkan
menjual persenjataan ke Iran secara diam-diam kendati kedua negara tidak lagi
menjalin hubungan diplomatik pasca Revolusi Islam di Iran, namun Iran sendiri
hingga sekarang selalu membantah kabar tersebut.
Kembali
ke medan perang, Iran berpikir bahwa Irak bisa direbut dengan melacarkan serangan besar-besaran dari
berbagai front. Maka pada tahun 1983, Iran melakukan 3 penyerbuan besar yang
disusul 2 penyerbuan lainnya dengan mengerahkan ratusan ribu personil
tentaranya. Iran sempat berhasil
menembus garis pertahanan Irak, namun Irak berhasil memukul balik Iran dengan
melakukan serangan udara mendadak secara besar-besaran. Hingga akhir tahun
1983, tercatat 120.000 personil Iran
& 60.000 personil Irak tewas dalam peperangan.
Irak
berusaha memaksa Iran menghentikan perang & menuju meja perundingan dengan
berbagai cara. Di awal tahun 1984, Irak membeli sejumlah alutsista baru dari
Uni Soviet & Prancis. Tak lama
kemudian, Irak melakukan serangan udara ke sejumlah kota dengan persenjataan
barunya itu. Irak berharap Iran merasa tertekan & kemudian menerima tawaran
dari Irak untuk berunding di tempat
netral, namun nyatanya Iran tetap menolak tawaran berunding dari Irak.
Iran
yang kehilangan begitu banyak personilnya akibat sejumlah penyerbuan yang gagal sebelumnya
belum mengendurkan serangan. Bulan Februari 1984, Iran menggelar "Operasi
Fajar" (Operation Dawn) yang
ditargetkan ke kota Kut al-Amara dengan
tujuan memotong jalur perairan yang menghubungkan Baghdad & Basra. Dalam
operasi militer itu, Iran mengerahkan 500.000 personil Basij & Pasdaran.
Pertempuran
dalam Operasi Fajar sekaligus menjadi seperti head-to-head kekuatan militer yang dominan di masing-masing negara.
Iran unggul jumlah tentara tapi kekurangan alutsista pendukung macam pasukan
udara & artileri sehingga Iran banyak menjalankan taktik mengerubungi
pertahanan musuh dengan tentara (human
wave attack), sementara Irak kalah jauh dalam hal jumlah tentara tapi
unggul dalam hal alutsista. Periode antara tanggal 29 Februari hingga 1
Maret merupakan salah satu episode
pertempuran terbesar dalam Perang Irak-Iran di mana dalam pertempuran itu,
masing-masing pihak kehilangan 20.000 tentaranya.
Iran
kembali melancarkan agresi militer antara akhir Februari hingga Maret 1984 di bawah kode sandi "Operasi
Khaibar" dengan memakai sejumlah serangan pendobrak ke Kota Basra. Agresi
militer tersebut berujung keberhasilan pasukan Iran merebut Pulau Majnun yang kaya minyak. Irak
sempat melancarkan serangan balik untuk
merebut wilayah tersebut , termasuk
dengan memakai senjata kimia. Namun pasukan Iran tetap berhasil mempertahankan
pulau tersebut hingga menjelang akhir
perang.
Walaupun
berada pada posisi tertekan, pada tahun 1985 Irak masih sempat melakukan penyerbuan balik ke Iran dengan
menyerang Tehran & kota-kota pent ing lainnya di Iran usai mendapatkan
bantuan finansial dari negara-negara Arab sekutunya & bantuan alutsista terbaru
dari Uni Soviet, Cina, & Perancis. Serangan Irak tersebut tidak membawa
perubahan yang signifikan dalam alur peperangan karena sekalipun wilayahnya
diserang, di tahun yang sama Iran tetap melakukan penyerbuan ke wilayah Irak di
bawah kode sandi "Operasi Badar".
4.
Tahun 1984-1988 : Perang Taker
Tahun
1984, Irak yang baru mendapat bantuan
pesawat tempur Super Etentard terbaru
dari Perancis melakukan operasi militer di laut
mulai dari muara Shat t’ el-Arab hingga pelabuhan Iran di Bushehr.
Target dari operasi militer
tersebut adalah semua kapal yang bukan
berbendera Irak di wilayah operasi militer, baik itu kapal berbendera Iran
maupun kapal netral yang dari atau menuju Tehran. Tujuannya adalah untuk
memblokade ekpsor minyak Iran & mempengaruhi ekonominya sehingga Iran mau
berunding dengan Irak. Kebijakan militer Irak tersebut lalu mengawali babak baru dalam perang yang
dikenal sebagai "perang tanker".
Jika
ditelusuri, sebenarnya perang tanker sudah dimulai sejak tahun 1981 di mana
pasukan laut Irak saat itu menargetkan titik- titik penting milik
Iran di laut seperti pelabuhan & kilang minyak. Dalam operasi militernya di
laut tersebut, Irak lebih banyak memakai
angkatan udaranya untuk melakukan serangan. "Perang tanker fase I"
tersebut berlangsung selama 2 tahun
setelah baik Irak maupun Iran kekurangan armada kapal untuk meneruskan operasi
militernya. Baru pada tahun 1984, Irak memutuskan untuk kembali melakukan
operasi militer di laut sekaligus
mengawali babak baru "perang tanker fase II".
Perang
tanker fase II dimulai ketika Irak menyerang kapal berbendera Yunani di sebelah
selatan Kepulauan Khark pada bulan Maret
1984. Iran lantas membalasnya dengan menyerang kapal-kapal berbendera
Kuwait di dekat Bahrain & Arab Saudi di perairan Arab Saudi sendiri.
Serangan tersebut sekaligus menjadi peringatan dari Iran bahwa jika Irak tetap
nekat melanjutkan perang tanker, tak akan ada kapal milik negara Teluk yang
bakal selamat. Suatu ancaman yang dampaknya tidak ringan karena berpotensi
melumpuhkan aktivitas pengangkutan minyak mentah di kawasan tersebut.
Upaya
Irak untuk memblokade jalur transportasi minyak Iran gagal melumpuhkan ekonomi
Iran karena ketika Irak memblokade kawasan teluk, Iran hanya memindahkan
pelabuhannya ke Kepulauan Larak di dekat
Selat Hormuz sehingga aktivitas
ekspor minyaknya relatif tidak
terganggu. Di lain pihak, justru Irak yang perekonomiannya terancam setelah
Suriah, sekutu Iran saat itu memblokade pipa minyak Irak ke Mediterania sejak
tahun 1982. Sebagai antisipasinya, Irak pun mengalihkan aktivitas ekspor
minyaknya lewat Kuwait dan jalur pipa minyak baru dibangun melewati Laut Merah serta Turki.
5.
Tahun 1987-1988 : Ikut Campurnya Amerika
Serikat (AS)
Situasi
perang tanker yang semakin membabi buta karena ikut menargetkan kapal-kapal tanker dari
negara-negara yang netral membuat
Kuwait meminta bantuan pihak
internasional pada tahun 1986. Uni Soviet adalah negara pertama yang merespon
dengan mengirimkan kapal-kapal perangnya untuk mengawal kapal tanker Kuwait.
Kebijakan Uni Soviet lalu diikuti oleh
AS pada tahun 1987 yang sebenarnya sudah didekati Kuwait lebih dulu.
Ikut
campurnya AS dalam Perang Irak- Iran sebenarnya disebabkan karena kapal
perangnya, USS Stark, tertembak oleh pesawat
tempur Irak sehingga 13 awak kapalnya meninggal. Irak meminta maaf kepada AS sambil mengatakan bahwa itu adalah
kecelakaan. Ironisnya, AS justru malah menyalahkan Iran dengan alasan Iranlah
yang menyebabkan peperangan semakin berkobar & kemudian diikuti dengan
tindakan AS untuk mengirim armada lautnya untuk mengawal kapal-kapal tanker
milik Kuwait yang mengibarkan bendera AS.
Tujuan
utama AS dalam penerjunan armada lautnya di sekitar Teluk adalah untuk
mengisolasi Iran & menjaga agar kapal-kapal bebas berlayar di sana. AS baru
melancarkan serangan langsung ke Iran dengan menghancurkan kilang minyak Iran
di ladang minyak Rostam setelah pasukan Iran menenggelamkan kapal tanker
Kuwait berbendera AS, Sea Isle City.
Setahun kemudian, tepatnya bulan April 1988, AS kembali menyerang kilang minyak
& kapal-kapal perang Iran setelah kapal perangnya, USS Samuel B. Roberts,
tenggelam akibat ranjau laut Iran.
Tanggal
3 Juli 1988, kapal perang AS, USS Vincennes, menembak jatuh pesawat sipil Iran
sehingga seluruh penumpang & awak pesawatnya tewas. AS berdalih kalau
pasukannya salah mengira bahwa pesawat sipil tersebut adalah pesawat tempur
Iran karena tidak mengidentifikasikan dirinya ke kapal perang sebagai pesawat
sipil. Namun, klaim AS tersebut dibantah
oleh Iran dan sumber independen lainnya seperti bandara Dubai yang menyatakan
kalau pesawat tersebut sudah mengidentifikasikan dirinya ke kapal AS sebagai
pesawat sipil melalui radio.
6.
Tahun 1988 : Gencatan Senjata dan Pasca
Perang
Antara
bulan April hingga bulan Agustus 1988, arah pertempuran mulai kembali
menguntungkan Irak setelah Irak berhasil meraih beberapa kemenangan penting
atas Iran. Dalam pertempuran pada kurun waktu tersebut, Irak juga berhasil
merebut sejumlah besar alutsista milik Iran & menguasai kembali Semenanjung
Al-Faw serta Kepulauan Majnun yang kaya minyak. Iran yang mulai terdesak
akhirnya mau menerima Resolusi Dewan Keamanan PBB 598 sehingga Perang Irak-
Iran yang sudah berlangsung selama 8 tahun pun berakhir pada tanggal 20 Agustus
1988.
Perang
Iran- Irak membawa kerugian besar bagi kedua belah pihak, baik dari segi
material dan korban jiwa. Jumlah kerugian material bagi masing-masing negara
diperkirakan mencapai 500 juta dollar AS. Sebagai akibatnya, pembangunan
ekonomi menjadi terhambat dan ekspor minyak kedua negara terganggu. Jumlah
kerugian lebih besar harus ditanggung Irak yang selama perang memangaktif
mencari pinjaman uang untuk menambah alutsista.
Tidak
diketahui secara pasti berapa jumlah korban tewas dalam Perang Irak-Iran.
Beberapa sumber memperkirakan bahwa jumlah korban tewas Irak mungkin mencapai
200.000 jiwa lebih, sementara Iran mencapai 1 juta jiwa sebagai akibat dari
taktik militer Iran yang banyak mengorbankan tentaranya untuk berhadap-hadapan
langsung dengan moncong senjata musuh. Jumlah tersebut belum termasuk mereka yang meninggal kemudian
akibat luka parah dan penyakit, termasuk
akibat penggunaan senjata kimia Irak yang berdampak jangka panjang.
Selain
kerugian material dan korban jiwa, tidak ada perubahan berarti pasca perang.
Wilayah-wilayah yang menjadi bahan sengketa statusnya kembali seperti sebelum
perang dan batas antara kedua negara juga tidak banyak berubah. Wilayah
perairan Shatt al-Arab contohnya, tetap dibagi menjadi milik kedua negara
dengan batasnya adalah titik terdalam pada perairan. Pasca perang, kedua negara
juga melakukan perbaikan hubungan bilateral.
C. Dampak
yang Timbul Setelah Terjadinya Perang
Tak dapat
dipungkiri bahwa semua perang terutama perang fisik tentulah berakibat pada
jatuhnya korban jiwa. Dalam Perang Iran-Irak ini tidak hanya dirasakan oleh
satu pihak saja tetapi oleh keduanya. Adapun dampak kerugian dari Perang
Irak-Iran ini antara lain :
1) Kerugian
besar bagi kedua belah pihak, dari segi material jumlah kerugian material bagi
masing-masing negara diperkirakan mencapai 500 juta dollar AS.
2) Jumlah
korban jiwa, jumlah korban tewas Irak mungkin mencapai 200.000 jiwa lebih,
sementara Iran mencapai 1 juta jiwa sebagai akibat dari taktik militer Iran
yang banyak mengorbankan tentaranya untuk berhadap-hadapan langsung dengan
moncong senjata musuh. Jumlah tersebut belum termasuk mereka yang meninggal
kemudian akibat luka parah dan penyakit, termasuk akibat penggunaan senjata
kimia Irak yang berdampak jangka panjang.
3) Jumlah
kerugian lebih besar harus ditanggung Irak yang selama perang memang aktif
mencari pinjaman uang untuk menambah persenjataan.
4) Pembangunan
ekonomi menjadi terhambat dan ekspor minyak kedua negara terganggu.
5) Selain
kerugian materi dan korban jiwa, tidak ada perubahan berarti pasca perang.
Wilayah-wilayah yang menjadi bahan sengketa statusnya kembali seperti sebelum
perang dan batas antara kedua negara juga tidak banyak berubah. Wilayah
perairan Shatt al-Arab contohnya, tetap dibagi menjadi milik kedua negara
dengan batasnya adalah titik terdalam pada perairan.