Senin, 03 Februari 2014

Makalah Sejarah

PERANG TELUK I, PERANG TELUK II, DAN PERANG ARAB-ISRAEL


KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur saya panjatkan kepada tuhan yang maha esa, karena atas berkat dan limpahan rahmatnyalah maka saya boleh menyelesaikan sebuah karya tulis dengan tepat waktu.
Dalam rangka memenuhi tugas mata pelajaran sejarah, saya menyusun Makalah yang berjudul “Perang Teluk I, Perang Teluk II, dan Perang Arab Israel”. Makalah ini, saya susun dengan bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak, untuk itu kami berterima kasih kepada :
1.                  Bapak  Drs. Amal Hamzah, M.Pd yang senantiasa membimbing saya dalam membuat Makalah ini,
2.                  Semua pihak yang telah berusaha dan bekerja sama agar penyusunan makalah ini dapat selesai dengan baik.
Melalui kata pengantar ini penulis lebih dahulu meminta maaf dan memohon permakluman bila mana isi makalah ini ada kekurangan dan ada tulisan yang saya buat kurang tepat atau menyinggu perasaan pembaca.
Dengan ini saya mempersembahkan makalah ini dengan penuh rasa terima kasih dan semoga allah SWT memberkahi makalah ini sehingga dapat memberikan manfaat.
PENULIS


DAFTAR ISI

Halaman Judul.................................................................................................................. i
Kata Pengantar................................................................................................................ ii
Daftar isi......................................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN
      A.               Latar Belakang.................................................................................................. 1
       B.               Perumusan Masalah........................................................................................... 2
       C.               Tujuan Penulisan............................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN
       I.            Perang Teluk I
A.    Faktor-Faktor Penyebab Perang Teluk I ................................................ 3
B.     Kronologi Terjadinya Perang Teluk I...................................................... 6
C.     Dampak yang Timbul Setelah Terjadinya Perang ................................ 16
    II.            Perang Teluk II
A.    Penyebab Terjadinya Perang Teluk II................................................... 17
B.     Kronologi Terjadinya Perang Teluk II................................................... 19
C.     Dampak Perang Teluk II ...................................................................... 21
 III.            Perang Arab Israel
A.    Fakta dan Sejarah Konflik Arab Israel ................................................. 22
BAB III PENUTUP
A.    Kesimpulan.................................................................................................. 28
DAFTAR PUSTAKA................................................................................................... 29

BAB I
PENDAHULUAN

A.           LATAR BELAKANG
Keberagaman negara diseluruh dunia ini memang juga mempunyai tradisi dan watak tersendiri-tersendiri. Adanya beberapa faktor mendasar yang sudah berlagsung sejak lama dan menyangkut kepercayaan serta menyangkut kemakmuran hidup bersama, ternyata sangat mudah menimbulkan konflik (peperangan).  Hal-hal yang menyangkut terkait ideologi bangsa, suku, keyakinan, sangat mudah sekali mengobarkan  adanya perselisihan dan permusuhan dan kemudian menjadi perang. Hal inilah yang terjadi pada Iran dan Irak yang saling berperang memperebutkan hak-nya yang sudah diklaim masing-masing. Mereka mempunyai dasar sendiri-sendiri yang dijadikanalat untuk membeladirinya supaya menjadi miliknya.
Kawasan Timur Tengah memangterkenal dengan sumber daya alamnya terutama hasilminyaknya yang mampu menyuplay keseluruh penjuru dunia. Iran sebagai salah satu negara yang kaya akan minyak, hal tersebut tidak lantas membuat Iran kaya dan tentram seperti yang diharapkan. Karena kita ketahui bahwa negara-negara lain yang butuh akan kekayaan minyak tersebut sudah siap untuk merebutnya. Irak adalah negara tetangga terdekatnya yang memiliki perbatasan dengan Iran. Di perbatasan itulah yang menjadisengketa dan menyulutkan perselisihan. Irak mengeklaim bahwa wilayah itu merupakan miliknya akan tetapi Iran juga tidak mau kalah dan menanggap bahwaitu juga wilayahnya.
Jika sudah begitu maka akan sangat sulit sekali untuk menengahinya. Dengan berbagai faktor baik intern maupun ekstern maka jelas perang antara negara tetangga ini tak mampu dielakkan lagi. Negara yang berdampingan yang seharusnya damai justru harus berperang dan mengakibatkan jatuhya korban yang tidak sedikit.
Konflik antar negara yang sampai sekarang masih terus berlanjut terjadi di Kawasan Timur Tengah, menjadikan bahan yang menarik untuk terus diulas dan dipelajari lebih mendalam. Terutama salah satu aktor negara yang sangat mencolok dengan konfliknya yaitu Irak. Irak terlibat perang dengan Iran negara tetangganya. Samapi sekarang konflik-konflik di negara-negara tersebut masih terus ada, hal tersebut disebabkab adanya faktor-faktor tertentu yang sangat mendasar di tambah lagi faktor-faktor pendukung lainnya. Kekurangpahaman terkait peran Irak-Iran ini tentunya membuat kita sebagai umat manusia yang sama tinggal di planet ciptaan Tuhan ini harus saling tahu dan memperhatikan bahkan ikut andil menjaga kerukunan antar negara. Karena pada dasrnya setiap peperangan pasti akan mempunyai dampak tidak hanya positif tetapi cenderung negatif terutama bagi pihak yang kalah.

B.            RUMUSAN MASALAH
1)      Apa yang melatarbelakangi pecahnya Perang Teluk I, Perang Teluk II, dan Perang Arab-Israel?
2)      Bagaimana jalannya proses peperangan?
3)      Bagaimanakah dampak atau akibat dari peperangan?

C.           TUJUAN
1)      Menjelaskan apa saja yang melatarbelakangi timbulnya atau pecahnya Perang Teluk I, Perang Teluk II, dan Perang Arab-Israel.
2)  Menyebutkan dan menguraikan secara lebih jelas mengenai pembagian periode jalannya peperangan.
3)     Menyebutkan dan menjelaskan terkait dampak Prang Teluk I ini.

pembahasannya disini nih 


BAB III
PENUTUP

Demikian yang dapat kami paparkan mengenai materi yang menjadi pokok bahasan dalam makalah ini, tentunya masih banyak kekurangan dan kelemahannya, kerena terbatasnya pengetahuan dan kurangnya rujukan atau referensi yang ada hubungannya dengan judul makalah ini.
Penulis banyak berharap para pembaca yang budiman dusi memberikan kritik dan saran yang membangun kepada penulis demi sempurnanya makalah ini dan dan penulisan makalah di kesempatan-kesempatan berikutnya. Semoga makalah ini berguna bagi penulis pada khususnya juga para pembaca yang budiman pada umumnya.

A      KESIMPULAN                      
Perang Irak-Iran juga dikenal sebagai Pertahanan Suci dan Perang Revolusi Iran di Iran, dan Qadisiyyah Saddam di Irak, adalah perang diantara Irak dan Iran yang bermula pada bulan september 1980 dan berakhir bulan Agustus 1988.
Perang antara Irak dan Kuwait sepenuhnya didasarkan ambisi Saddam Hussein untuk menguasai daerah Kuwait yang kaya akan hasil alam serta mengeruk keuntungan ekonomi dari negara ini, sebagai implikasi kebangkrutan Irak setelah perang Teluk Persia II. Berbeda dengan perang sebelumnya, kali ini Irak tidak mendapatkan dukungan yang diharapkan malah justru mendapati kawan lama, AS dan bangsa Arab, berbalik haluan mengecam dan menngempur Irak atas invasinya terhadap Kuwait.
Sedangkan perang Arab Israel sangatlah panjang. Konflik-konflik selalu bermunculan dan mengakibatkan perang ini masih sampai sekarang. Perang ini berawal dari tahun 1948.
Sekian penutup dari kami semoga berkenan di hati dan kami ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya.

DAFTAR PUSTAKA

Arab & Israel, Conflict or Conciliation
GlobalSecurity.org -  Iran- Iraq War (1980-1988)
Military History Encyclopedia on the Web -  Tanker War 1984-1988
Wikipedia -  Iran- Iraq War
Wikipedia -  Israeli support  f or Iran during the Iran- Iraq war
Wisnu Ario Windra Pratama, 2012, Kelemahan Liga Arab Sebagai Organisasi Regional Dalam Menangani Konflik di Timur Tengah, HI UMM


Perang Arab Israel

I.          FAKTA DAN SEJARAH KONFLIK ARAB-ISRAEL
Berikut merupakan kronologi perseteruan antara Arab dengan Israel
1948 M Inggris mundur dari Palestina karena mandatnya dari PBB sudah habis. Para pemukim Yahudi mengumumkan kemerdekaan negara Israel, sambil melakukan agresi bersenjata terhadap rakyat Palestina yang masih amat lemah, sehingga menimbulkan peperangan dengan negara-negara Arab tetangganya. Sebelum pelaksanaan pembagian wilayah, Israel berhasil merebut daerah Arab Palestina yang telah ditetapkan PBB. Sedangkan tepi barat (wilayah Yordania) Jalur Gaza (wilayah Mesir) masih berada di tangan Arab.
1948 13 Mei Atas perintah Inggris pasukan Yordania yang dipimpin oleh panglima bangsa Inggris ditarik dari Palestina bersama pencegahan passukan-pasukan Arab lainnya memasuki Palestina. Itu semua menjelang habisnya masa perwalian Inggris di Palestina. Gerombolan-gerombolan bersenjata Zionis menyerang dan membantai Pribumi Palestina termasuk perempuan dan anak-anak dalam jumlah yang mengerikan di
ssetiap kota dan desa, antara lain Dyr Yassin, Haifa, Yerussalem, Jaffa dan
Theberia dll. Kota-kota dan desa-desa tersebut direbut dan penduduknya
mereka kosongkan, sebagian terbantai dan sebagian mengungsi ke luar.
1948 14 Mei Yahudi mengumumkan berdirinya negara Zionis Israel disaat yang tepat, yaitu sehari sebelum Inggris resmi meninggalkan Palestina dalam masa perwaliannya yang hampir habis. Hingga lahirlah negara baru Israel dalam perlindungan imperialis Inggris. Suatu perencanaan yang paling cermat dalam sejarah imperialisme.
1948 15 Mei Inggris resmi meniggalkan Palestina saat agresi Yahudi
bersenjata masih berlangsung terhadap rakyat Palestina yang masih amat
lemah. Suatu kesempatan bagi Yahudi untuk menduduki lebih banyak lagi
wilayah sebelum pelaksanaan pembagian wilayah oleh PBB bila sudah
diserahkan Inggris. Gerombolan Zionis Israel dari gerombolan Hagana, Irgun dan lainnya dengan brutal masih menyerbu, kini ke Negeve (selatan Palestina) di saat pejuang Palestina makin terpojok. Dua negar Arab, Irak dan Yordania di bawah Abdullah dan Raja Abdullah telah diatur oleh Inggris berkhianat kepada rakyat Palestina. Belakangan diketahui bahwa tanpa sepengetahuan dunia Arab, Raja Abdullah telah berkhianat dengan membuat persetujuan rahasia dengan Inggris. Ia menyetujui pembagian Palestina. Ini disembunyikan dengan rapi, dengan membuat pernyataan palsu tentang pembelannya terhadap Palestina.
1948 Oktober Akhirnya Yahudi merebut Negeve (Negeb) karena segala kemudahan dari Inggris, disebabkan pula oleh keterpukauan para pemimpin Arab saat itu. Inggris menyadari benar arti pentingnya Negeve untuk menguasai terusan Suez.
1948 2 Desember Protes keras Liga Arab karena tindakan Amerika serta usaha-usaha sekutunya Inggris berupa dorongan-dorongan dan fasilitas yang mereka berikan terus bagi imigrasi Zionis ke Palestina.
1956 Presiden Mesir Gamal Abdul Nasser menasionalisasikan terusan Suez. 29 Oktober Israel dengan bantuan pasukan Inggris dan Perancis melancarkan serangan ke semenanjung Sinai sampai mendekati terusan Suez. Karena mendapatkan tekanan dari Amerika Serikat, Inggris dan Perancis menarik pasukannya. Peristiwa ini sebagai bukti, Zionis adalah ujung tombak imperialis Barat di Timur Tengah.
1958 Perang saudara di Libanon meletus untuk pertama kalinya sebagai kelanjutan dari politik devide et impera yang ditanamkan Inggris dan Zionis. 1964 Para pemimpin Arab memutuskan pembentukan PLO (Palestina Liberation Organitation).
1967 Israel menyerang Mesir, Yordania dan Syiria selama enam hari dengan dalih serangan pencegahan. Israel berhasil merebut semenanjung Sinai dan jalur Gaza (Mesir), dataran tinggi Golan (Syria), Tepi Barat dan Yerussalem (Yordania). Israel dengan mudah menghancurkan angkatan udara ketiga negara itu karena memperoleh bantuan informasi intelejen yang berasal dari Amerika sebelum melaksanakan serangan itu.
1967 Nov. Dewan keamanan PBB mengeluarkan resolusi nomor 242, untuk perintah penarikan mundur Israel dari wilayah yang direbutnya dalam perang enam hari, pengakuan semua negara di kawasan itu dan menyelesaikan secara adil masalah pengungsi Palestina.
1968 Israel melancarkan serangan ke Libanon dengan sasaran pangkalan pejuang Palestina di kamp pengungsi Karameh, namun kemudian dipukul mundur oleh pejuang Palestina dan tentara Yordania.1969 Yasser Arafat terpilih sebagai ketua Komite Eksklusif PLO.
1970 Karena kekuatan-kekuatan kelompok-kelompok gerilyawan Palestina di Yordania semakin kuat dan berbagai pembajakan pesawat sebagai publikasi perjuangan rakyat Palestina, menimbulkan permusuhan antara PLO dan Yordania, karena negara itu sebagai basis PLO dikecam oleh opini dunia. Akibatnya timbul perang saudara antara PLO dengan Yordania dan berakhir dengan pengusiran markas PLO dari Yordania ke Libanon.
1973 6 Oktober Mesir dan Syiria menyerang pasukan Israel di semenanjung Sinai dan dataran tinggi Golan pada hari puasa Yahudi Yom Kippur, untuk merebut kembali wilayahnya yang diduduki Israel. Pertempuran ini dikenal dengan Perang Oktober.
1973 22 Oktober Dewan Keamanan PBB mengeluarkan resolusi 338, sebagi perintah gencatan senjata, pelaksanaan resolusi 242 dan perundingan
perdamaian di Timur Tengah.
1974 PLO ditegaskan sebagi wakil yang sah dari bangsa Palestina dalam sebuah konferensi puncak Negara-negara Arab di Rabat, Marokko.
1975 Kembali meletus perang saudara antar golongan di Libanon sebagai buah dari bibit yagn ditanam dulu oleh imperialis dan Zionis.
1977 Presiden Mesir Anwar Sadat pergi ke Yerussalem tanpa berkonsultasi dengan Liga Arab. Ia menawarkan perdamaian, jika Israel bersedia mengembalikan seluruh semenanjung Sinai. Tindakan ini mengakibatkan sistem Arab pecah menjadi beberapa kubu dan pertentangan pandangn politiknya. Negara-negara Arab mengecam pemimpin Mesir itu sebagai pengkhianat.
1978 September Mesir dan Israel menandatangani perjanjian Camp David yang diprakarsai oleh Amerika Serikat. Perjanjian itu memberikan otonomi terbatas kepada Rakyat Palestina di wilayah-wilayah pendudukan. Israel tetap menolak perundingan dengan PLO dan PLO menolak otonomi. Peristiwa ini mengakibatkan Mesir terisolir dari gelanggang politik Arab.
1979 17 Menteri Luar Negeri yang secara kolektif merupakan dewan Liga Arab membentuk Komite Solidaritas Arab mengatasi gejolak-gejolak perpecahan di dalam sistem Arab.
1979 Ayatullah Khomeine memaklumkan Revolusi Islam di Iran yang
menumbangkan rezim Syah Reza Pahlevi.
1980 Israel secara sepihak menyatakan bahwa mulai musim panas 1980 kota Yerussalaem yang didudukinya itu resmi sebagai ibukota Israel. Suatu Kesewenangan yang kesekian kalinya menampar prinsip keadilan di bumi ini. 1980 Pecah perang Iran-Irak yang berkepanjangan sampai 8 tahun.
1982 Juni hingga Nopember Israel menyerang Libanon (mereka menamakan operasi Galilea), dan bersama-sama milisi Phalangis membantai ratusan orang Palestina di perkemahan kaum pengungsi Sabra dan Shatila di Beirut. Pemimpin Phalangis Bashir Gemayel terbunuh.
1983 Kedutaan besar Amerika Serikat dan Markas Korps Marinir Amerika di Beirut diledakan bom mobil bunuh diri.
1987 ‘Intifadah’ – perlawanan oleh orang-orang Palestina tanpa senjata terhadap tentara Israel mulai meledak di wilayah pendudukan Israel di Tepi Barat dan Jalur Gaza.
1988 Des. Menlu Amerika, George P. Schultz membenarkan pembukaan dialog dengan PLO setelah Arafat mau mengakui hak keberadaan negara Israel.
1989 Mei Perdana Menteri Israel, Yitzhak Shamir, menyerukan pengakhiran keadaan perang antara negara-negara Arab dan Israel, dan pengakhiran boikot Arab terhadap Israel, serta mengajukan rencana perundingan perdamaian Arab-Israel, tetapi menolak berunding dengan PLO. Bulan September, Mesir menawarkan diri sebagai tuan rumah perundingan awal antara Israel dan wakil-wakil Palestina.
1989 Okt. Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, James Baker, mengajukan rencana lima butir perdamaian Timur Tengah, sebagai gabungan rencana Israel dan Mesir untuk melaksanakan pertemuan tiga pihak, yakni Mesir, Israel dan Amerika Serikat guna mengadakan perundingan Israel dan Palestina.
1990 Agustus Irak menyerbu Kuwait. Ketua PLO Yasser Arafat menyatakan mendukung Presiden Irak Saddam Hussein. Terjadi lagi perpecahan dan pergeseran persekutuan antar Arab menjadi dua kubu.
1991 Maret Presiden Amerika Serikat George Bush menyatakan berakhirnya perang teluk dan membuka kesempatan bagi penyelesian konflik Arab-Israel. 1991 Okt. Negara-negara Arab dan Israel mengadakan perundingan di Madrid, Spanyol dengan sponsor Amerika Serikat dan Uni Soviet, untuk menyelesikan masalah konflik Arab-Israel.
1993 Sept. PLO-Israel menyatakan saling mengakui eksistensi masing-masing dan Israel memberi hak otonomi kepada PLO kota Yericho dan Gaza. Pengakuan itu mendapat reaksi kecaman keras dari pihak Radikal Israel maupunkelompok kelompok Palestina yang tidak setuju.
Pada akhir September 2000, pecah lagi kerusuhan di Tepi Barat dan Jalur Gaza terutama diwilayah-wilayah yang diduduki tentara Israel. Kerusuhan ini menimbulkan korban manusia,kehancuran prasarana dan tragedi kemanusiaan. DK PBB kembali mengeluarkan Resolusi No1397 (2002) yang menyerukan penghentian tindakan kekerasan dan menegaskan kembali visiPBB yakni terwujudnya dua negara di wilayah itu: Palestina dan Israel.
Mundurnya Israel dari wilayah-wilayah Arab yang diduduki dan terselesaikannya masalahpengungsi Palestina secara adil, menjadi inti dari penyelesaian konflik Arab-Israel. Belum semuaResolusi PBB terlaksana, pecah perang lagi antara Arab-Israel pada Juli tahun ini. Perang inidiakhiri dengan Resolusi PBB No 1701 (2006) yang intinya: Israel harus menghentikan operasimeliter dan menarik diri dari wilayah Lebanon, Hizbullah menghentikan serangannya ke Israel,dan pembentukan pasukan perdamaian.

Pada 14 April 2009, Utusan khusus PBB untuk Timur Tengah, George Mitchell menekankanpenyelesaian dua negara bagi konflik antara Israel dan Palestina. George Mitchell pada saat itubertemu dengan para pejabat penting di wilayah-wilayah Israel dan Palestina, dan juga Mesir.

Perang Teluk II

I.         PERANG TELUK II
Perang Teluk II yang melibatkan Irak dan Kuwait adalah perang kedua terbesar Irak setelah perang Iran-Irak, sekaligus merupakan perang pertama dimana AS ikut serta sebagai actor utuh yang ikut berperang. Perang ini melibatkan AS dan koalisi PBB dan sebagian besar negara-negara Arab bergerak membantu Kuwait melawan Irak seperti Yaman, Yordania dan PLO (Palestinian Liberation Organization). Pada perang ini Liga Arab terpecah menjadi dua kubu dan melahirkan konflik baru diantara anggotanya.

Perang dimulai ketika 100.000 pasukan Irak bergerak menuju selatan, menyerbu dan menguasai ibu kota. Hampir keseluruhan anggota keluarga kerajaan, termasuk sang Amir, Sheikh Jaber Al-Sabah, terbang menuju Saudi Arabia. Kurang dari seminggu, tepatnya 6 Agustus Baghdad resmi mencaplok Kuwait dan mendeklarasikannya sebagai provinsi ke-19 Irak.
Perang Teluk disebabkan atas Invasi Irak atas Kuwait 2 Agustus 1990 dengan strategi gerak cepat yang langsung menguasai Kuwait. Emir Kuwait Syeikh Jaber Al Ahmed Al Sabah segera meninggalkan negaranya dan Kuwait dijadikan provinsi ke-19 Irak dengan nama Saddamiyat Al-Mitla` pada tanggal 28 Agustus 1990.

A.           Penyebab Terjadinya Perang Teluk II
Faktor - Faktor Penyebab terjadinya Perang :
ü  Terjadinya pelanggaran kuota minyak yang dilakukan oleh Kuwait, Arab dan Uni Emirat Arab sehingga produksi minyak melimpah, akibat harga minyak anjlok. Irak waktu itu mengandalkan pendapatan negara dari sektor  minyak sangat terpukul dengan peristiwa ini. Irak yang waktu itu sedang membangun negaranya yang rusak akibat perang melawan Iran.
ü  Ambisi Sadam Husen untuk tampil sebagai orang nomor satu dan dihormati didunia Arab.
ü  Kuwait dituduh mencuri minyak Irak di Padang Rumelia yang terletak diperbatasankedua negara ( dipersengketakan )
ü  Sebab khusus yaitu adanya serangan Irak terhadap Kuwait tanggal 22 Agustus 1990 yang berhasilmenduduki Kuwait.

Invasi Irak ke Kuwait disebabkan oleh kemerosotan ekonomi Irak setelah Perang Delapan Tahun dengan Iran dalam perang Iran-Irak. Irak sangat membutuhkan petro dolar sebagai pemasukan ekonominya sementara rendahnya harga petro dolar akibat kelebihan produksi minyak oleh Kuwait serta Uni Emirat Arab yang dianggap Saddam Hussein sebagai perang ekonomi serta perselisihan atas Ladang Minyak Rumeylasekalipun pada pasca-perang melawan Iran, Kuwait membantu Irak dengan mengirimkan suplai minyak secara gratis. Selain itu, Irak mengangkat masalah perselisihan perbatasan akibat warisan Inggris dalam pembagian kekuasaan setelah jatuhnya pemerintahan Usmaniyah Turki.

B.            Kronologi Terjadinya Perang Teluk II
Pada awalnya Saddam mengira jika AS tidak akan menganggu agenda Irak tersebut mengacu pada dukungan sebelumnya pada Perang Persia I, akan tetapi diluar dugaan, PBB dan AS menuntut Irak untuk hengkang dari wilayah Kuwait. Presiden Mesir, Hosni Mubarak pun mencoba menjadi penengah konflik antara Irak-Kuwait namun tidak berhasil. Ketika diplomasi tidak menemukan hasil, hanya dalam kurun waktu satu minggu AS berhasil membentuk pasukan koalisi berjumlah ribuan pasukan berpusat di Arab Saudi. 16 Januari 1991, tentara AS beserta koalisi dibawah otoritas PBB menyerang wilayah Irak dan wilayah Kuwait yang diduduki Irak melalui serangan udara.
Irak menanggapi dengan meluncurkan rudal Seud menuju pos-pos militer musuh, serta mengarahkan rudal kepada Israel dengan tujuan Tel Aviv, dengan maksud memancing Israel untuk ikut masuk dalam perang. Ini adalah taktik Saddam untuk membredel koalisi antara AS dan bangsa Arab. Dengan asumsi apabila Israel menjawab pancingan tersebut dan menerjunkan pasukan untuk ikut menggempur Irak, maka negara-negara Arab akan melepaskan diri dari koalisi akibat perang Arab-Israel yang masih berlarut-larut, sehingga kekuatan AS akan berkurang sebab hengkangnya bantuan bangsa Arab. Strategi ini tidak berhasil karena AS menjamin Israel aman dari jangkauan rudal Irak. Israel tidak menggubris pancingan Irak.
Pada masa ini untuk memojokkan Irak, isu mengenai senjata biologis yang digunakan Irak untuk menyerang pasukan Iran kembali digulirkan setelah tidak digubris sama sekali. Sebelumnya kantor berita Iran, IRNA, menuduh bahwa Irak telah meluncurkan senjata kimia lainnya ke medan tempur sebelah selatan, dan melukai 600 tentara Iran.
Senjata kimia itu adalah bis-(2-chlorethyl)-sulfide, atau lebih dikenal dengan sebutan gas mustard dan etil N, N-dimethylphosphoroamidocyanidate, gas saraf atau dikenal sebagai Tabun. Pada saat itu Kementrian Luar Negeri AS dalam laporannya tanggal 5 Maret 1984 menyatakan, “Ada bukti-bukti yang menunjukkan bahwa Irak menggunakan senjata kimia yang mematikan.” Akan tetapi Rumsfeld yang berada di Baghdad tidak membicarakan masalah tersebut meskipun ada laporan dari Kementrian Luar Negeri AS. Sebaliknya, harian The New York Times pada edisi 29 Maret 1984 dari Baghdad memberitakan, “para diplomat Amerika menyatakan mereka puas dengan hubungan antara Irak dan Amerika Serikat dan menyarankan agar hubungan diplomatic secara formal dipulihkan.” Berita ini kembali diangkat untuk mendesak Irak dan memancing dukungan dari Iran, namun tidak berhasil.
Setelah itu AS menggempur dengan serangan darat selama 3 hari dimulai 23 hingga 26 Februari 1991 yang akhirnya memukul mundur pasukan Irak dari Kuwait. Akibat kelelahan menghadapi musuh yang tidak diduga, ditambah gejolak internal pemberontakan Syi’ah etnis Kurdi yang memanas membuat Irak semakin terdesak. Pada 27 February, George W. Bush memerintahkan gencatan senjata pada Irak. 3 Maret 1991 Irak mematuhi mandate AS dengan menerima Resolusi DK PBB 660, 662, dan 674 dan perang berakhir.
Setelah kalah dalam perang menginvasi Kuwait, Irak mengalami beberapa konsekuensi yang haru dihadapi:
1)        Sanksi ekonomi dan perdagangan internasional
2)        Jumlah korban yang besar
3)        Pelucutan persenjataan oleh PBB
4)        Menimbulkan pemberontakan dari Syi’ah dan etnis Kurdi untuk mendapatkan hak-haknya yang selama ini dikekang oleh Saddam Hussein. Supreme Council of the Islamic Revolution in Irak (SCIRI) medapatkan dukungan lisan dari AS melalui pidato George W. Bush lewat radio untuk menggulingkan pemerintahan Saddam Hussein. Akan tetapi pada 28 Maret 1991 Saddam mengumumkan pemberontak Syi’ah Irak selatan dapat dikendalikan, kemudian menyusul 30 maret 1991 pada pemberontak Kurdi

Sedangkan pihak aliansi yang mendukung Irak seperti Yaman dan PLO pun mengalami masa sulit setelah kekalahan perang Irak melawan Kuwait. Hubungan antara Yaman dan Arab Saudi memanas, dan PLO kurang mendapatkan bantuan kembali dari dunia Arab untuk memperjuangkan Palestina.

Mengenai dukungan pada agenda perang Irak kali ini telah jelas menggambarkan bahwa baik AS maupun Liga Arab tidak mendukung kebjakan Saddam Hussein untuk menginvasi Kuwait. Hal ini didsampaikan melalui KTT Kairo pada Agustus 1990 dengan hasil musyawarah setuju untuk membentuk pasukan keamanan guna membantu angkatan bersenjata Arab Saudi dan negara-negara Teluk lainnya.

C.            Dampak Akibat Perang Teluk II
Perang Teluk II yang berlangsung lebih singkat daripada Perang Teluk I, ternyata membawa akibat yang tidak kalah hebatnya dengan Perang Teluk I. Akibat-akibat itu sebagai berikut.
a)             Ladang-ladang minyak Kuwait rusak berat karena dibakar oleh Irak.
b)            Negara dan perekonomian Irak rusak berat karena gempuran tentara multinasional dan blokade ekonomi serta embargo yang diterapkan PBB.
c)             Peranan Amerika Serikat semakin kuat di Timur Tengah.
d)            Kekuatan Israel semakin tidak ada tandingannya.
e)             Timbulnya semangat anti-Amerika.
f)             Perpecahan negara-negara Arab.
g)            Irak membayar ganti rugi.
h)            Irak harus mengizinkan tim inspeksi nuklir PBB memeriksa nuklir Irak.
i)              Irak kena embargo ekonomi.


Perang Teluk I

I.         PERANG TELUK I
Perang Iran-Irak juga dikenali sebagai Pertahanan Suci dan Perang Revolusi Iran diIran, dan Qadisiyyah Saddam di Irak, adalah perang di antara Irak dan Iran yang bermula pada bulan September 1980 dan berakhir pada bulan Agustus 1988. Kemudian pada awal 1990-an Konflik Iraq-Kuwait meletus dan pada Umumnya, dikenali sebagai Perang Teluk Persia atau Gulf War .

Walaupun perang Iran-Irak yang dimulai dari tahun 1980-1988 merupakan perang yang terjadi di wilayah Teluk Persia, akar dari masalah ini sebenarnya dimulai lebih dari berabad-abad silam. Berlarut-larutnya permusuhan yang terjadi antara kerajaan Mesopotamia(terletak di lembah sungai Tigris-Eufrat, yang kini menjadi sebuah negara Irak modern) dengan kerajaan Persia atau negara Iran modern.

Iran dan Irak merupakan dua negara yang bertetangga, namun keduanya tidak dapat saling akur, hal ini disebabkan karena keduanya merasa sama – sama lebih unggul. Hal ini diperjelas lagi setelah kemenangan kaum revolusioner di Iran yang berhasil menumbangkan rezim monarki dan menggantinya menjadi negara Republik Islam Iran serta ingin mengekspor revolusinya ke negara negara – negara Arab lainnya yang masih berbentuk monarki. Hal ini mendorong Irak untuk tampil sebagai juru selamat bangsa Arab dari ancaman invasi revolusi Iran.

A.       Faktor-Faktor yang Menyebabkan Terjadinya Perang Teluk I
Ada beberapa hal yang disebut-sebut  memicu meletusnya perang antara Irak melawan Iran di mana hal-hal tersebut  menyangkut  berbagai aspek, utamanya aspek polit ik & sektarian :
1.        Sengketa Atas Shatt al-Arab & Khuzestan
Shatt al-Arab adalah sungai sepanjang 200 km yang terbentuk dari pertemuan Sungai Efrat  & Tigris di kota Al-Qurnah, Irak selatan, dimana bagian akhir dari sungai yang mengarah ke Teluk Persia tersebut terletak di perbatasan Irak & Iran. Sungai tersebut  utamanya penting bagi Irak karena merupakan jalan keluar utama negara tersebut  ke arah laut.
Karena letaknya yang berada di perbatasan & posisi strategisnya yang mengarah ke Teluk Persia, sungai tersebut  menjadi bahan sengketa Irak & Iran. Sebelum perang antara kedua meletus, sejak tahun 1975 sungai tersebut  menjadi milik kedua negara di mana batasnya adalah pada titik terendah sungai berdasarkan Persetujuan Aljier (Algier Accord).
Wilayah lain yang menjadi sengketa kedua negara adalah provinsi Khuzestan yang kaya minyak. Wilayah tersebut selama ini menjadi wilayah Iran, namun sejak tahun 1969 Irak mengklaim bahwa Khuzestan berada di tanah Irak & wilayah tersebut  diserahkan ke Iran ket ika Irak dijajah oleh Inggris. Lebih lanjut , stasiun TV milik Irak bahkan memasukkan Khuzestan sebagai wilayah Irak & menyerukan warga Arab di sana untuk memberontak melawan Iran.

2.        Munculnya Revolusi Islam di Iran
Tahun 1979 merupakan tahun terpent ing dalam sejarah Iran modern hingga menjadi seperti Iran sekarang. Di tahun itu, terjadi revolusi pemerintahan di mana rezim kerajaan Pahlevi yang dianggap sebagai rezim boneka AS tumbang & digantikan oleh sistem republik Islam. Pasca revolusi tersebut , muncul kekhawatiran dikalangan nasionalis Arab & Muslim Sunni bahwa revolusi tersebut akan menyebar ke negara-negara Arab di sekitarnya. Kekhawatiran terbesar terutama datang dari Irak yang wilayahnya memang bersebelahan dengan Iran & memiliki penganut  Syiah berjumlah besar di wilayahnya.
Ayatullah Khomeini, pemimpin revolusi Islam di Iran, memang memiliki impian untuk menyebarkan pengaruh revolusinya ke negara-negara Arab lainnya. Pertengahan tahun 1980, Khomeini menyebut  bahwa pemerintahan sekuler Irak adalah pemerintahan "boneka setan" & masyarakat  Muslim di Irak sebaiknya bersatu untuk mewujudkan revolusi Islam seperti di Iran. Pernyataan Khomeini tersebut  sekaligus sebagai respon dari pernyataan Saddam pasca revolusi Islam Iran yang menyatakan bahwa bangsa Persia (Iran) tidak akan berhasil membalas dendam kepada bangsa Arab sejak Pertempuran al-Qadisiyyah, pertempuran pada abad ke-7 yang dimenangkan oleh bangsa Arab sekaligus menumbangkan Kerajaan Persia kuno.
Irak di bawah kendali Saddam Hussein & Partai Baath memiliki ambisi untuk menjadi kekuatan dominan di wilayah Arab di bawah bendera pan Arabisme sejak meninggalnya Presiden Mesir, Gamal A. Nasser. Revolusi Islam yang terjadi di Iran tersebut dianggap sebagai penghalang karena bertentangan dengan prinsip nasionalisme sekuler Arab. Selain untuk mencegah menyebarnya revolusi Islam, Irak juga berusaha mengambil keuntungan dengan kondisi internal Iran yang tidak stabil pasca revolusi Islam untuk merebut  wilayah-wilayah yang menjadi bahan sengketa dengan Iran & menambah sumber minyak Irak.

3.        Percobaan Pembunuhan Terhadap Pejabat  Irak
Pertengahan tahun 1980, terjadi percobaan pembunuhan kepada Deputi Perdana menteri Irak, Tariq Aziz. Irak kemudian menangkap sejumlah orang yang diduga terlibat atas percobaan pembunuhan tersebut  & mendeportasi ribuan warga Syiah berdarah Iran keluar dari Irak. Pemimpin Irak, Saddam Hussein, menyalahkan Iran sambil menyebut  ada agen Iran yang terlibat  dalam peristiwa tersebut . Peristiwa itu selanjutnya semakin memanaskan hubungan kedua negara hingga akhirnya pada bulan September 1980, Irak melancarkan serangannya ke Iran.

            Dapat pula disebutkan sebab umum dan sebab khusus perang Teluk I. Sebab umum perang perang Iran – Irak antara lain : 
1)      Kedua negara tidak mau mengakui keunggulan masing – masing.
2)      Masalah minoritas etnis.
3)      Perbedaaan orientasi politik luar negeri
4)      Irak beruasaha untuk merebut kembali beberapa daerah Arab yang telah di klaim oleh Iran (Shatt al – Arab dan tiga pulau kecil di selat Hormus menurut perjanjian Algiers tahun 1975).
Sedangkan sebab khusus Perang Iran – Irak antara lain :
1)        Adanya serangan granat pada tanggal 1 April 1980 terhadap wakil PM Irak Tariq Aziz yang diduga didalangi oleh Iran.
2)        Adanya pengusisran ribuan keturunan Iran oleh sadam, serta melancarkan serangan yang sengit terhadap pribadi Khomeini dan membatalkan perjanjian Algiers. Sedangkan Menlu Iran Shodeh Godzadeh berjanji untuk menumbangkan rezim Baath yang berkuasa di Irak serta memutuskan hubungan diplomatik.
3)        Kedua negara saling menempatkan pasukan masing – masing di daerah perbatasan dalam jumlah yang cukup besar (Subaryana, 1997 : 28 – 29).

B.     Kronologi Terjadinya Perang Teluk I
Dalam melancarkan serangannya tersebut, terjadi penyerbuan-penyerbuan yang dilakukan untuk mendapatkan daerah-daerah yang diinginkan. Bermacam-macam cara dilakukan untuk sebuah kemenangan.

1.         Tahun 1980-1982 : Penyerbuan Oleh Irak
Ada 2 sasaran Irak dalam serangannya ke Iran : menguasai wilayah-wilayah strategis serta kaya minyak di Iran & mencegah tersebarnya revolusi Islam ke negara-negara sekitarnya. Dalam serangannya, Irak menginginkan kemenangan cepat  atas Iran dengan memanfaatkan situasi internal Iran yang masih belum stabil pasca revolusi Islam. Irak juga berharap kalau masyarakat  di Iran akan menyalahkan pemerintahan baru negaranya sehingga sebagian dari mereka terutama dari golongan Arab Sunni -  kemudian akan membelot  kepada Irak.
Tanggal 22 September 1980, jet-jet tempur Irak menyerang 10 pangkalan udara milik Iran dengan tujuan menghancurkan pesawat  tempur Iran di darat, taktik yang dipelajari dari kemenangan Israel atas Arab dalam Perang 6 Hari. Serangan dari pasukan udara Irak berhasil menghancurkan gudang amunisi & jalur transportasi darat, namun sebagian besar pesawat  Iran tetap utuh karena terlindung dalam hanggar yang terlindungi secara khusus. Kegagalan Irak menghancurkan pesawat-pesawat  tempur Iran dalam serangan kejutan tersebut  memberi peluang bagi Iran untuk melancarkan serangan udara balasan ke Irak.
Sehari kemudian, Irak melakukan serangan darat  ke wilayah Iran dari 3 front  sekaligus. Inti dari serangan tersebut  adalah untuk menguasai Khuzestan & Shat t  al-Arab di mana 4 dari 6 divisi pasukan Irak dalam penyerbuan dikirim untuk menguasai kedua wilayah tersebut. Sisanya dipecah jadi 2 untuk menguasai front utara (Qasr-e Shirin) & f ront  tengah (Mehran) untuk mengantisipasi serangan balik yang mungkin dilakukan oleh Iran. Hasilnya, usai serangan mendadak itu Irak berhasil menguasai wilayah Iran seluas 1.000 km persegi.
Bulan November 1980, pasukan Irak melancarkan serangan ke 2 kota penting yang strategis di Iran selatan, Shabadan & Khorramshahr. Dalam penyerbuannya itu, pasukan Irak mendapat  perlawanan sengit dari pasukan Pasdaran (Garda Revolusi) Iran. Kedua kota tersebut akhirnya berhasil dikuasai Irak pada tanggal 10 November 1980. Tercatat  belasan ribu pasukan dari kedua kubu terbunuh dalam pertempuran di kedua kota tersebut. Keberhasilan Irak menguasai kedua kota tersebut  sekaligus menjadi keberhasilan terakhir Irak mencaplok wilayah mayor dari Iran.
Iran yang tertekan sempat  berusaha melakukan serangan balasan kepada Irak pada awal tahun 1981, namun gagal karena presiden Iran, Bani Sadr, nekat  memimpin langsung pasukan reguler Iran sekalipun dia hanya memiliki pengetahuan militer yang minim. Ia mengirimkan 3 resimen pasukan reguler tanpa didukung oleh Pasdaran & tidak memperhitungkan waktu serangan di saat hujan yang bakal menyulitkan suplai logistik. Akibatnya, pasukan Iran dikepung pasukan Irak & banyak dari kendaraan lapis baja Iran yang hancur atau perlu ditinggalkan karena terjebak dalam lumpur.
Serangan balasan Iran yang jauh lebih efektif  sebenarnya sudah dilakukan beberapa hari sejak Irak pertama kali membombardir pangkalan udara milik Iran. Pesawat-pesawat  F-4 milik Iran melakukan serangan ke wilayah Irak & secara efektif  berhasil melumpuhkan sejumlah titik penting di sana. Keberhasilan tersebut membuat  pasukan udara Iran terlihat  lebih superior dibandingkan pasukan udara Irak. Namun, kurangnya amunisi & suku cadang yang hanya bisa didapatkan dari AS  negara sekutu Iran yang berbalik memusuhi Iran pasca revolusi Islam  membuat  Iran seiring waktu jadi lebih banyak memakai helikopter yang dipasangi persenjataan darat  sebagai pendukung pasukan dari udara.

2.         Tahun 1982 : Titik Balik & Mundurnya Irak
Pasukan Irak dalam serangan kilatnya berhasil memanfaatkan momentum lemahnya koordinasi pasukan Iran & problem alutsista milik Iran sehingga para pengamat yakin bahwa perang akan segera berakhir dengan kemenangan Irak hanya dalam waktu beberapa minggu. Plus, Irak memang berhasil menguasai wilayah-wilayah strategis Iran dalam serangannya itu. Namun, Iran enggan menyerah begitu saja & dalam perkembangannya berhasil memukul balik Irak.
Problem bagi Iran dalam perang adalah dari segi alutsista atau persenjataan, mereka kalah superior dibanding Irak yang saat  itu memang merupakan salah satu negara dengan kekuatan militer terbaik di Timur Tengah selain Israel. Untuk mengantisipasinya, sejak perang meletus Iran merekrut ratusan ribu milisi sukarela yang disebut Basij (Tentara Rakyat). Basij tidak memiliki pengalaman militer & persenjataan yang memadai, namun mereka memiliki keyakinan sangat tinggi akan agamanya & tidak segan-segan melakukan tindakan berani mati semisal menerobos ladang ranjau atau area yang dihujani tembakan artileri musuh saat  diperintahkan.
Pasukan Irak di wilayah Iran dalam perkembangannya tidak bisa bergerak lebih jauh lagi sejak bulan Maret 1981 setelah pasukan mereka dikalahkan oleh milisi Basij yang jumlahnya mencapai ribuan di Sungai Kanun. Sejak itu, Irak lebih banyak melakukan taktik defensif  untuk mempertahankan wilayah taklukan mereka & hanya terjadi sedikit  pergeseran di garis depan. Faktor utamanya adalah kesalahan prediksi di mana Irak memperkirakan warga Arab Sunni di Iran bakal membantu mereka. Namun faktanya, mereka bersama rakyat Iran lainnya justru bersatu dan bahu-membahu melawan Irak.
Titik balik bagi Iran terjadi pada bulan Maret  1982 dalam operasi militernya di bawah kode sandi "Operasi Kemenangan yang Tak Dapat  Disangkal" (Operation Undeniable Victory). Dalam operasi militer tersebut , pasukan gabungan Pasdaran-Basij milik Iran berhasil menembus garis depan pasukan Irak yang sebelumnya dianggap tidak bisa ditembus & memecah pasukan Irak di utara & selatan Khuzestan sehingga pasukan Irak terpaksa mundur.
Bulan Mei 1982, Iran berhasil merebut  kembali wilayah Khorramshahr. Dalam pertempuran memperebutkan wilayah tersebut , Irak kehilangan 7.000 tentara, sementara Iran 10.000 sehingga menjadikan pertempuran itu sebagai salah satu pertempuran paling berdarah dalam inisiatif  serangan balik Iran. Sejak kemenangan tersebut , Iran berganti menjadi pihak yang menekan Irak dan pada bulan Juni berhasil mendapatkan kembali seluruh wilayahnya yang sebelumnya dikuasai oleh Irak.
Saddan Hussein yang melihat  bahwa moral pasukannya sudah terlanjur runtuh akibat  serangkaian kekalahan melawan Iran pun menyatakan akan segera menarik seluruh pasukannya dari Iran & menawarkan gencatan senjata kepada Iran. Tawaran gencatan senjata itu mencakup pembayaran ganti rugi perang sebesar 70 juta dollar AS oleh negara-negara Arab. Iran menolak tawaran gencatan senjata tersebut  sambil menyatakan bahwa mereka akan menyerbu Irak & tidak akan berhenti sampai rezim yang berkuasa di Irak digantikan oleh pemerintahan republik Islam.

3.         Tahun 1982-1988 : Penyerbuan Oleh Iran
Bulan Juli 1982, Iran melancarkan serangannya ke kota Basra, Irak, di bawah kode sandi "Operasi Ramadhan". Dalam serangan tersebut, puluhan ribu anggota Basij & Pasdaran mengorbankan diri mereka dengan berlari melewati ladang ranjau untuk memberi jalan bagi tank-tank di belakangnya di mana selain menghadapi bahaya ranjau, mereka juga dihujani tembakan artileri pasukan Irak. Irak berhasil mencegah Iran merengsek lebih jauh berkat ketangguhan persenjataannya di garis pertahanan, namun Irak juga harus kehilangan sejumlah kecil wilayah karena dikuasai Iran.
Keberhasilan Iran memukul balik Irak & berbalik menjadi negara penyerbu membawa kekhawat iran tersendiri bagi AS yang kemudian memutuskan untuk membantu Irak sejak tahun 1982. Presiden AS, Ronald Reagan, menyatakan bahwa negaranya akan berusaha membantu dengan cara apapun untuk mencegah Irak kalah. Selain dari AS, dukungan untuk Irak juga datang dari Uni Soviet  & Liga Arab. Di lain pihak, Iran sendiri selama perang hanya mendapat dukungan secara terbuka dari Suriah & Libya.
Karena keberpihakan terang-terangan AS ke Irak, maka cukup mengejutkan ketika AS diketahui juga membantu Iran dengan jalan menjual persenjataan ke Iran secara diam-diam (dikenal sebagai skandal Iran-Contra). Henry Kissinger, salah satu tokoh penting Gedung Putih,  menyatakan bahwa AS merasa baik Irak & Iran sama-sama tidak boleh kalah untuk mencegah dominasi dari pihak pemenang di kawasan tersebut. Israel juga dikabarkan menjual persenjataan ke Iran secara diam-diam kendati kedua negara tidak lagi menjalin hubungan diplomatik pasca Revolusi Islam di Iran, namun Iran sendiri hingga sekarang selalu membantah kabar tersebut.
Kembali ke medan perang, Iran berpikir bahwa Irak bisa direbut  dengan melacarkan serangan besar-besaran dari berbagai front. Maka pada tahun 1983, Iran melakukan 3 penyerbuan besar yang disusul 2 penyerbuan lainnya dengan mengerahkan ratusan ribu personil tentaranya. Iran sempat  berhasil menembus garis pertahanan Irak, namun Irak berhasil memukul balik Iran dengan melakukan serangan udara mendadak secara besar-besaran. Hingga akhir tahun 1983, tercatat  120.000 personil Iran & 60.000 personil Irak tewas dalam peperangan.
Irak berusaha memaksa Iran menghentikan perang & menuju meja perundingan dengan berbagai cara. Di awal tahun 1984, Irak membeli sejumlah alutsista baru dari Uni Soviet  & Prancis. Tak lama kemudian, Irak melakukan serangan udara ke sejumlah kota dengan persenjataan barunya itu. Irak berharap Iran merasa tertekan & kemudian menerima tawaran dari Irak untuk berunding di tempat  netral, namun nyatanya Iran tetap menolak tawaran berunding dari Irak.
Iran yang kehilangan begitu banyak personilnya akibat  sejumlah penyerbuan yang gagal sebelumnya belum mengendurkan serangan. Bulan Februari 1984, Iran menggelar "Operasi Fajar" (Operation Dawn) yang ditargetkan ke kota Kut  al-Amara dengan tujuan memotong jalur perairan yang menghubungkan Baghdad & Basra. Dalam operasi militer itu, Iran mengerahkan 500.000 personil Basij & Pasdaran.
Pertempuran dalam Operasi Fajar sekaligus menjadi seperti head-to-head kekuatan militer yang dominan di masing-masing negara. Iran unggul jumlah tentara tapi kekurangan alutsista pendukung macam pasukan udara & artileri sehingga Iran banyak menjalankan taktik mengerubungi pertahanan musuh dengan tentara (human wave attack), sementara Irak kalah jauh dalam hal jumlah tentara tapi unggul dalam hal alutsista. Periode antara tanggal 29 Februari hingga 1 Maret  merupakan salah satu episode pertempuran terbesar dalam Perang Irak-Iran di mana dalam pertempuran itu, masing-masing pihak kehilangan 20.000 tentaranya.
Iran kembali melancarkan agresi militer antara akhir Februari hingga Maret  1984 di bawah kode sandi "Operasi Khaibar" dengan memakai sejumlah serangan pendobrak ke Kota Basra. Agresi militer tersebut berujung keberhasilan pasukan Iran merebut  Pulau Majnun yang kaya minyak. Irak sempat  melancarkan serangan balik untuk merebut  wilayah tersebut , termasuk dengan memakai senjata kimia. Namun pasukan Iran tetap berhasil mempertahankan pulau tersebut  hingga menjelang akhir perang.
Walaupun berada pada posisi tertekan, pada tahun 1985 Irak masih sempat  melakukan penyerbuan balik ke Iran dengan menyerang Tehran & kota-kota pent ing lainnya di Iran usai mendapatkan bantuan finansial dari negara-negara Arab sekutunya & bantuan alutsista terbaru dari Uni Soviet, Cina, & Perancis. Serangan Irak tersebut tidak membawa perubahan yang signifikan dalam alur peperangan karena sekalipun wilayahnya diserang, di tahun yang sama Iran tetap melakukan penyerbuan ke wilayah Irak di bawah kode sandi "Operasi Badar".

4.         Tahun 1984-1988 : Perang Taker
Tahun 1984, Irak yang baru mendapat  bantuan pesawat  tempur Super Etentard terbaru dari Perancis melakukan operasi militer di laut  mulai dari muara Shat t’ el-Arab hingga pelabuhan Iran di Bushehr. Target  dari operasi militer tersebut  adalah semua kapal yang bukan berbendera Irak di wilayah operasi militer, baik itu kapal berbendera Iran maupun kapal netral yang dari atau menuju Tehran. Tujuannya adalah untuk memblokade ekpsor minyak Iran & mempengaruhi ekonominya sehingga Iran mau berunding dengan Irak. Kebijakan militer Irak tersebut  lalu mengawali babak baru dalam perang yang dikenal sebagai "perang tanker".
Jika ditelusuri, sebenarnya perang tanker sudah dimulai sejak tahun 1981 di mana pasukan laut  Irak saat  itu menargetkan titik- titik penting milik Iran di laut seperti pelabuhan & kilang minyak. Dalam operasi militernya di laut  tersebut, Irak lebih banyak memakai angkatan udaranya untuk melakukan serangan. "Perang tanker fase I" tersebut  berlangsung selama 2 tahun setelah baik Irak maupun Iran kekurangan armada kapal untuk meneruskan operasi militernya. Baru pada tahun 1984, Irak memutuskan untuk kembali melakukan operasi militer di laut  sekaligus mengawali babak baru "perang tanker fase II".
Perang tanker fase II dimulai ketika Irak menyerang kapal berbendera Yunani di sebelah selatan Kepulauan Khark pada bulan Maret  1984. Iran lantas membalasnya dengan menyerang kapal-kapal berbendera Kuwait di dekat Bahrain & Arab Saudi di perairan Arab Saudi sendiri. Serangan tersebut sekaligus menjadi peringatan dari Iran bahwa jika Irak tetap nekat melanjutkan perang tanker, tak akan ada kapal milik negara Teluk yang bakal selamat. Suatu ancaman yang dampaknya tidak ringan karena berpotensi melumpuhkan aktivitas pengangkutan minyak mentah di kawasan tersebut.
Upaya Irak untuk memblokade jalur transportasi minyak Iran gagal melumpuhkan ekonomi Iran karena ketika Irak memblokade kawasan teluk, Iran hanya memindahkan pelabuhannya ke Kepulauan Larak di dekat  Selat  Hormuz sehingga aktivitas ekspor minyaknya relatif  tidak terganggu. Di lain pihak, justru Irak yang perekonomiannya terancam setelah Suriah, sekutu Iran saat itu memblokade pipa minyak Irak ke Mediterania sejak tahun 1982. Sebagai antisipasinya, Irak pun mengalihkan aktivitas ekspor minyaknya lewat Kuwait dan jalur pipa minyak baru dibangun melewati Laut  Merah serta Turki.

5.         Tahun 1987-1988 : Ikut Campurnya Amerika Serikat (AS)
Situasi perang tanker yang semakin membabi buta karena ikut  menargetkan kapal-kapal tanker dari negara-negara yang netral membuat  Kuwait  meminta bantuan pihak internasional pada tahun 1986. Uni Soviet adalah negara pertama yang merespon dengan mengirimkan kapal-kapal perangnya untuk mengawal kapal tanker Kuwait. Kebijakan Uni Soviet  lalu diikuti oleh AS pada tahun 1987 yang sebenarnya sudah didekati Kuwait  lebih dulu.
Ikut campurnya AS dalam Perang Irak- Iran sebenarnya disebabkan karena kapal perangnya, USS Stark, tertembak oleh pesawat  tempur Irak sehingga 13 awak kapalnya meninggal. Irak meminta maaf  kepada AS sambil mengatakan bahwa itu adalah kecelakaan. Ironisnya, AS justru malah menyalahkan Iran dengan alasan Iranlah yang menyebabkan peperangan semakin berkobar & kemudian diikuti dengan tindakan AS untuk mengirim armada lautnya untuk mengawal kapal-kapal tanker milik Kuwait yang mengibarkan bendera AS.
Tujuan utama AS dalam penerjunan armada lautnya di sekitar Teluk adalah untuk mengisolasi Iran & menjaga agar kapal-kapal bebas berlayar di sana. AS baru melancarkan serangan langsung ke Iran dengan menghancurkan kilang minyak Iran di ladang minyak Rostam setelah pasukan Iran menenggelamkan kapal tanker Kuwait  berbendera AS, Sea Isle City. Setahun kemudian, tepatnya bulan April 1988, AS kembali menyerang kilang minyak & kapal-kapal perang Iran setelah kapal perangnya, USS Samuel B. Roberts, tenggelam akibat  ranjau laut  Iran.
Tanggal 3 Juli 1988, kapal perang AS, USS Vincennes, menembak jatuh pesawat sipil Iran sehingga seluruh penumpang & awak pesawatnya tewas. AS berdalih kalau pasukannya salah mengira bahwa pesawat sipil tersebut adalah pesawat tempur Iran karena tidak mengidentifikasikan dirinya ke kapal perang sebagai pesawat sipil. Namun, klaim AS tersebut  dibantah oleh Iran dan sumber independen lainnya seperti bandara Dubai yang menyatakan kalau pesawat tersebut sudah mengidentifikasikan dirinya ke kapal AS sebagai pesawat sipil melalui radio.

6.         Tahun 1988 : Gencatan Senjata dan Pasca Perang
Antara bulan April hingga bulan Agustus 1988, arah pertempuran mulai kembali menguntungkan Irak setelah Irak berhasil meraih beberapa kemenangan penting atas Iran. Dalam pertempuran pada kurun waktu tersebut, Irak juga berhasil merebut sejumlah besar alutsista milik Iran & menguasai kembali Semenanjung Al-Faw serta Kepulauan Majnun yang kaya minyak. Iran yang mulai terdesak akhirnya mau menerima Resolusi Dewan Keamanan PBB 598 sehingga Perang Irak- Iran yang sudah berlangsung selama 8 tahun pun berakhir pada tanggal 20 Agustus 1988.
Perang Iran- Irak membawa kerugian besar bagi kedua belah pihak, baik dari segi material dan korban jiwa. Jumlah kerugian material bagi masing-masing negara diperkirakan mencapai 500 juta dollar AS. Sebagai akibatnya, pembangunan ekonomi menjadi terhambat dan ekspor minyak kedua negara terganggu. Jumlah kerugian lebih besar harus ditanggung Irak yang selama perang memangaktif mencari pinjaman uang untuk menambah alutsista.
Tidak diketahui secara pasti berapa jumlah korban tewas dalam Perang Irak-Iran. Beberapa sumber memperkirakan bahwa jumlah korban tewas Irak mungkin mencapai 200.000 jiwa lebih, sementara Iran mencapai 1 juta jiwa sebagai akibat dari taktik militer Iran yang banyak mengorbankan tentaranya untuk berhadap-hadapan langsung dengan moncong senjata musuh. Jumlah tersebut  belum termasuk mereka yang meninggal kemudian akibat  luka parah dan penyakit, termasuk akibat penggunaan senjata kimia Irak yang berdampak jangka panjang.
Selain kerugian material dan korban jiwa, tidak ada perubahan berarti pasca perang. Wilayah-wilayah yang menjadi bahan sengketa statusnya kembali seperti sebelum perang dan batas antara kedua negara juga tidak banyak berubah. Wilayah perairan Shatt al-Arab contohnya, tetap dibagi menjadi milik kedua negara dengan batasnya adalah titik terdalam pada perairan. Pasca perang, kedua negara juga melakukan perbaikan hubungan bilateral.

C.     Dampak yang Timbul Setelah Terjadinya Perang
Tak dapat dipungkiri bahwa semua perang terutama perang fisik tentulah berakibat pada jatuhnya korban jiwa. Dalam Perang Iran-Irak ini tidak hanya dirasakan oleh satu pihak saja tetapi oleh keduanya. Adapun dampak kerugian dari Perang Irak-Iran ini antara lain :
1)      Kerugian besar bagi kedua belah pihak, dari segi material jumlah kerugian material bagi masing-masing negara diperkirakan mencapai 500 juta dollar AS.
2)      Jumlah korban jiwa, jumlah korban tewas Irak mungkin mencapai 200.000 jiwa lebih, sementara Iran mencapai 1 juta jiwa sebagai akibat dari taktik militer Iran yang banyak mengorbankan tentaranya untuk berhadap-hadapan langsung dengan moncong senjata musuh. Jumlah tersebut belum termasuk mereka yang meninggal kemudian akibat luka parah dan penyakit, termasuk akibat penggunaan senjata kimia Irak yang berdampak jangka panjang.
3)      Jumlah kerugian lebih besar harus ditanggung Irak yang selama perang memang aktif mencari pinjaman uang untuk menambah persenjataan.
4)      Pembangunan ekonomi menjadi terhambat dan ekspor minyak kedua negara terganggu.
5)      Selain kerugian materi dan korban jiwa, tidak ada perubahan berarti pasca perang. Wilayah-wilayah yang menjadi bahan sengketa statusnya kembali seperti sebelum perang dan batas antara kedua negara juga tidak banyak berubah. Wilayah perairan Shatt al-Arab contohnya, tetap dibagi menjadi milik kedua negara dengan batasnya adalah titik terdalam pada perairan.