I.
PERANG
TELUK II
Perang Teluk II yang melibatkan Irak dan Kuwait
adalah perang kedua terbesar Irak setelah perang Iran-Irak, sekaligus merupakan
perang pertama dimana AS ikut serta sebagai actor utuh yang ikut berperang. Perang ini melibatkan AS dan
koalisi PBB dan sebagian besar negara-negara Arab bergerak membantu Kuwait
melawan Irak seperti Yaman, Yordania dan PLO (Palestinian Liberation
Organization). Pada perang ini Liga Arab terpecah menjadi dua kubu dan
melahirkan konflik baru diantara anggotanya.
Perang dimulai ketika 100.000 pasukan Irak
bergerak menuju selatan, menyerbu dan menguasai ibu kota. Hampir keseluruhan
anggota keluarga kerajaan, termasuk sang Amir, Sheikh Jaber Al-Sabah, terbang
menuju Saudi Arabia. Kurang dari seminggu, tepatnya 6 Agustus Baghdad resmi
mencaplok Kuwait dan mendeklarasikannya sebagai provinsi ke-19 Irak.
Perang Teluk disebabkan
atas Invasi
Irak atas Kuwait 2 Agustus 1990 dengan strategi gerak cepat yang langsung
menguasai Kuwait. Emir Kuwait Syeikh Jaber Al
Ahmed Al Sabah segera meninggalkan negaranya dan Kuwait dijadikan provinsi ke-19 Irak dengan nama Saddamiyat
Al-Mitla` pada tanggal 28 Agustus 1990.
A.
Penyebab Terjadinya Perang Teluk II
Faktor - Faktor Penyebab
terjadinya Perang :
ü
Terjadinya pelanggaran kuota minyak yang
dilakukan oleh Kuwait, Arab dan Uni Emirat Arab sehingga produksi minyak
melimpah, akibat harga minyak anjlok. Irak waktu itu mengandalkan pendapatan
negara dari sektor minyak sangat terpukul dengan peristiwa ini. Irak yang
waktu itu sedang membangun negaranya yang rusak akibat perang melawan Iran.
ü
Ambisi Sadam Husen untuk tampil sebagai
orang nomor satu dan dihormati didunia Arab.
ü
Kuwait dituduh mencuri minyak Irak di
Padang Rumelia yang terletak diperbatasankedua negara ( dipersengketakan )
ü
Sebab khusus yaitu adanya serangan Irak
terhadap Kuwait tanggal 22 Agustus 1990 yang berhasilmenduduki Kuwait.
Invasi Irak ke Kuwait disebabkan oleh kemerosotan
ekonomi Irak setelah Perang Delapan Tahun dengan Iran dalam perang Iran-Irak. Irak sangat membutuhkan petro dolar sebagai
pemasukan ekonominya sementara rendahnya harga petro dolar akibat kelebihan
produksi minyak oleh Kuwait serta Uni Emirat Arab yang dianggap Saddam Hussein sebagai perang ekonomi serta perselisihan atas Ladang Minyak
Rumeylasekalipun pada
pasca-perang melawan Iran, Kuwait membantu Irak dengan mengirimkan suplai
minyak secara gratis. Selain itu, Irak mengangkat masalah perselisihan
perbatasan akibat warisan Inggris dalam pembagian kekuasaan setelah jatuhnya
pemerintahan Usmaniyah Turki.
B.
Kronologi Terjadinya Perang Teluk II
Pada awalnya Saddam mengira jika AS tidak akan
menganggu agenda Irak tersebut mengacu pada dukungan sebelumnya pada Perang
Persia I, akan tetapi diluar dugaan, PBB dan AS menuntut Irak untuk hengkang
dari wilayah Kuwait. Presiden Mesir, Hosni Mubarak pun mencoba menjadi penengah
konflik antara Irak-Kuwait namun tidak berhasil. Ketika diplomasi tidak
menemukan hasil, hanya dalam kurun waktu satu minggu AS berhasil membentuk
pasukan koalisi berjumlah ribuan pasukan berpusat di Arab Saudi. 16 Januari
1991, tentara AS beserta koalisi dibawah otoritas PBB menyerang wilayah Irak
dan wilayah Kuwait yang diduduki Irak melalui serangan udara.
Irak menanggapi dengan meluncurkan rudal Seud
menuju pos-pos militer musuh, serta mengarahkan rudal kepada Israel dengan tujuan
Tel Aviv, dengan maksud memancing Israel untuk ikut masuk dalam perang. Ini
adalah taktik Saddam untuk membredel koalisi antara AS dan bangsa Arab. Dengan
asumsi apabila Israel menjawab pancingan tersebut dan menerjunkan pasukan untuk
ikut menggempur Irak, maka negara-negara Arab akan melepaskan diri dari koalisi
akibat perang Arab-Israel yang masih berlarut-larut, sehingga kekuatan AS akan
berkurang sebab hengkangnya bantuan bangsa Arab. Strategi ini tidak berhasil
karena AS menjamin Israel aman dari jangkauan rudal Irak. Israel tidak
menggubris pancingan Irak.
Pada masa ini untuk memojokkan Irak, isu
mengenai senjata biologis yang digunakan Irak untuk menyerang pasukan Iran
kembali digulirkan setelah tidak digubris sama sekali. Sebelumnya kantor berita
Iran, IRNA, menuduh bahwa Irak telah meluncurkan senjata kimia lainnya ke medan
tempur sebelah selatan, dan melukai 600 tentara Iran.
Senjata kimia itu adalah
bis-(2-chlorethyl)-sulfide, atau lebih dikenal dengan sebutan gas mustard dan
etil N, N-dimethylphosphoroamidocyanidate, gas saraf atau dikenal sebagai
Tabun. Pada saat itu Kementrian Luar Negeri AS dalam laporannya tanggal 5 Maret
1984 menyatakan, “Ada bukti-bukti yang menunjukkan bahwa Irak menggunakan
senjata kimia yang mematikan.” Akan tetapi Rumsfeld yang berada di Baghdad
tidak membicarakan masalah tersebut meskipun ada laporan dari Kementrian Luar
Negeri AS. Sebaliknya, harian The New York Times pada edisi 29 Maret 1984 dari
Baghdad memberitakan, “para diplomat Amerika menyatakan mereka puas dengan
hubungan antara Irak dan Amerika Serikat dan menyarankan agar hubungan
diplomatic secara formal dipulihkan.” Berita ini kembali diangkat untuk
mendesak Irak dan memancing dukungan dari Iran, namun tidak berhasil.
Setelah itu AS menggempur dengan serangan darat
selama 3 hari dimulai 23 hingga 26 Februari 1991 yang akhirnya memukul mundur
pasukan Irak dari Kuwait. Akibat kelelahan menghadapi musuh yang tidak diduga,
ditambah gejolak internal pemberontakan Syi’ah etnis Kurdi yang memanas membuat
Irak semakin terdesak. Pada 27 February, George W. Bush memerintahkan gencatan
senjata pada Irak. 3 Maret 1991 Irak mematuhi mandate AS dengan menerima
Resolusi DK PBB 660, 662, dan 674 dan perang berakhir.
Setelah kalah dalam perang menginvasi Kuwait,
Irak mengalami beberapa konsekuensi yang haru dihadapi:
1)
Sanksi
ekonomi dan perdagangan internasional
2)
Jumlah
korban yang besar
3)
Pelucutan
persenjataan oleh PBB
4)
Menimbulkan
pemberontakan dari Syi’ah dan etnis Kurdi untuk mendapatkan hak-haknya yang
selama ini dikekang oleh Saddam
Hussein. Supreme Council of the Islamic Revolution in Irak (SCIRI) medapatkan dukungan lisan dari
AS melalui pidato George W. Bush lewat radio untuk menggulingkan pemerintahan
Saddam Hussein. Akan tetapi pada 28 Maret 1991 Saddam mengumumkan pemberontak
Syi’ah Irak selatan dapat dikendalikan, kemudian menyusul 30 maret 1991 pada
pemberontak Kurdi
Sedangkan pihak aliansi yang mendukung Irak
seperti Yaman dan PLO pun mengalami masa sulit setelah kekalahan perang Irak
melawan Kuwait. Hubungan antara Yaman dan Arab Saudi memanas, dan PLO kurang
mendapatkan bantuan kembali dari dunia Arab untuk memperjuangkan Palestina.
Mengenai dukungan pada agenda perang Irak kali
ini telah jelas menggambarkan bahwa baik AS maupun Liga Arab tidak mendukung
kebjakan Saddam Hussein untuk menginvasi Kuwait. Hal ini didsampaikan melalui
KTT Kairo pada Agustus 1990 dengan hasil musyawarah setuju untuk membentuk
pasukan keamanan guna membantu angkatan bersenjata Arab Saudi dan negara-negara
Teluk lainnya.
C.
Dampak Akibat Perang Teluk II
Perang Teluk II yang berlangsung lebih singkat daripada Perang Teluk I,
ternyata membawa akibat yang tidak kalah hebatnya dengan Perang Teluk I.
Akibat-akibat itu sebagai berikut.
a)
Ladang-ladang minyak Kuwait rusak berat
karena dibakar oleh Irak.
b)
Negara dan perekonomian Irak rusak berat
karena gempuran tentara multinasional dan blokade ekonomi serta embargo yang
diterapkan PBB.
c)
Peranan Amerika Serikat semakin kuat di
Timur Tengah.
d)
Kekuatan Israel semakin tidak ada
tandingannya.
e)
Timbulnya semangat anti-Amerika.
f)
Perpecahan negara-negara Arab.
g)
Irak membayar ganti rugi.
h)
Irak harus mengizinkan tim inspeksi
nuklir PBB memeriksa nuklir Irak.
i)
Irak kena embargo ekonomi.
Invasi Irak ke Kuwait mendatangkan serangan yang lebih besar ke Irak dari berbagai negara
BalasHapus