Senin, 03 Februari 2014

Perang Teluk II

I.         PERANG TELUK II
Perang Teluk II yang melibatkan Irak dan Kuwait adalah perang kedua terbesar Irak setelah perang Iran-Irak, sekaligus merupakan perang pertama dimana AS ikut serta sebagai actor utuh yang ikut berperang. Perang ini melibatkan AS dan koalisi PBB dan sebagian besar negara-negara Arab bergerak membantu Kuwait melawan Irak seperti Yaman, Yordania dan PLO (Palestinian Liberation Organization). Pada perang ini Liga Arab terpecah menjadi dua kubu dan melahirkan konflik baru diantara anggotanya.

Perang dimulai ketika 100.000 pasukan Irak bergerak menuju selatan, menyerbu dan menguasai ibu kota. Hampir keseluruhan anggota keluarga kerajaan, termasuk sang Amir, Sheikh Jaber Al-Sabah, terbang menuju Saudi Arabia. Kurang dari seminggu, tepatnya 6 Agustus Baghdad resmi mencaplok Kuwait dan mendeklarasikannya sebagai provinsi ke-19 Irak.
Perang Teluk disebabkan atas Invasi Irak atas Kuwait 2 Agustus 1990 dengan strategi gerak cepat yang langsung menguasai Kuwait. Emir Kuwait Syeikh Jaber Al Ahmed Al Sabah segera meninggalkan negaranya dan Kuwait dijadikan provinsi ke-19 Irak dengan nama Saddamiyat Al-Mitla` pada tanggal 28 Agustus 1990.

A.           Penyebab Terjadinya Perang Teluk II
Faktor - Faktor Penyebab terjadinya Perang :
ü  Terjadinya pelanggaran kuota minyak yang dilakukan oleh Kuwait, Arab dan Uni Emirat Arab sehingga produksi minyak melimpah, akibat harga minyak anjlok. Irak waktu itu mengandalkan pendapatan negara dari sektor  minyak sangat terpukul dengan peristiwa ini. Irak yang waktu itu sedang membangun negaranya yang rusak akibat perang melawan Iran.
ü  Ambisi Sadam Husen untuk tampil sebagai orang nomor satu dan dihormati didunia Arab.
ü  Kuwait dituduh mencuri minyak Irak di Padang Rumelia yang terletak diperbatasankedua negara ( dipersengketakan )
ü  Sebab khusus yaitu adanya serangan Irak terhadap Kuwait tanggal 22 Agustus 1990 yang berhasilmenduduki Kuwait.

Invasi Irak ke Kuwait disebabkan oleh kemerosotan ekonomi Irak setelah Perang Delapan Tahun dengan Iran dalam perang Iran-Irak. Irak sangat membutuhkan petro dolar sebagai pemasukan ekonominya sementara rendahnya harga petro dolar akibat kelebihan produksi minyak oleh Kuwait serta Uni Emirat Arab yang dianggap Saddam Hussein sebagai perang ekonomi serta perselisihan atas Ladang Minyak Rumeylasekalipun pada pasca-perang melawan Iran, Kuwait membantu Irak dengan mengirimkan suplai minyak secara gratis. Selain itu, Irak mengangkat masalah perselisihan perbatasan akibat warisan Inggris dalam pembagian kekuasaan setelah jatuhnya pemerintahan Usmaniyah Turki.

B.            Kronologi Terjadinya Perang Teluk II
Pada awalnya Saddam mengira jika AS tidak akan menganggu agenda Irak tersebut mengacu pada dukungan sebelumnya pada Perang Persia I, akan tetapi diluar dugaan, PBB dan AS menuntut Irak untuk hengkang dari wilayah Kuwait. Presiden Mesir, Hosni Mubarak pun mencoba menjadi penengah konflik antara Irak-Kuwait namun tidak berhasil. Ketika diplomasi tidak menemukan hasil, hanya dalam kurun waktu satu minggu AS berhasil membentuk pasukan koalisi berjumlah ribuan pasukan berpusat di Arab Saudi. 16 Januari 1991, tentara AS beserta koalisi dibawah otoritas PBB menyerang wilayah Irak dan wilayah Kuwait yang diduduki Irak melalui serangan udara.
Irak menanggapi dengan meluncurkan rudal Seud menuju pos-pos militer musuh, serta mengarahkan rudal kepada Israel dengan tujuan Tel Aviv, dengan maksud memancing Israel untuk ikut masuk dalam perang. Ini adalah taktik Saddam untuk membredel koalisi antara AS dan bangsa Arab. Dengan asumsi apabila Israel menjawab pancingan tersebut dan menerjunkan pasukan untuk ikut menggempur Irak, maka negara-negara Arab akan melepaskan diri dari koalisi akibat perang Arab-Israel yang masih berlarut-larut, sehingga kekuatan AS akan berkurang sebab hengkangnya bantuan bangsa Arab. Strategi ini tidak berhasil karena AS menjamin Israel aman dari jangkauan rudal Irak. Israel tidak menggubris pancingan Irak.
Pada masa ini untuk memojokkan Irak, isu mengenai senjata biologis yang digunakan Irak untuk menyerang pasukan Iran kembali digulirkan setelah tidak digubris sama sekali. Sebelumnya kantor berita Iran, IRNA, menuduh bahwa Irak telah meluncurkan senjata kimia lainnya ke medan tempur sebelah selatan, dan melukai 600 tentara Iran.
Senjata kimia itu adalah bis-(2-chlorethyl)-sulfide, atau lebih dikenal dengan sebutan gas mustard dan etil N, N-dimethylphosphoroamidocyanidate, gas saraf atau dikenal sebagai Tabun. Pada saat itu Kementrian Luar Negeri AS dalam laporannya tanggal 5 Maret 1984 menyatakan, “Ada bukti-bukti yang menunjukkan bahwa Irak menggunakan senjata kimia yang mematikan.” Akan tetapi Rumsfeld yang berada di Baghdad tidak membicarakan masalah tersebut meskipun ada laporan dari Kementrian Luar Negeri AS. Sebaliknya, harian The New York Times pada edisi 29 Maret 1984 dari Baghdad memberitakan, “para diplomat Amerika menyatakan mereka puas dengan hubungan antara Irak dan Amerika Serikat dan menyarankan agar hubungan diplomatic secara formal dipulihkan.” Berita ini kembali diangkat untuk mendesak Irak dan memancing dukungan dari Iran, namun tidak berhasil.
Setelah itu AS menggempur dengan serangan darat selama 3 hari dimulai 23 hingga 26 Februari 1991 yang akhirnya memukul mundur pasukan Irak dari Kuwait. Akibat kelelahan menghadapi musuh yang tidak diduga, ditambah gejolak internal pemberontakan Syi’ah etnis Kurdi yang memanas membuat Irak semakin terdesak. Pada 27 February, George W. Bush memerintahkan gencatan senjata pada Irak. 3 Maret 1991 Irak mematuhi mandate AS dengan menerima Resolusi DK PBB 660, 662, dan 674 dan perang berakhir.
Setelah kalah dalam perang menginvasi Kuwait, Irak mengalami beberapa konsekuensi yang haru dihadapi:
1)        Sanksi ekonomi dan perdagangan internasional
2)        Jumlah korban yang besar
3)        Pelucutan persenjataan oleh PBB
4)        Menimbulkan pemberontakan dari Syi’ah dan etnis Kurdi untuk mendapatkan hak-haknya yang selama ini dikekang oleh Saddam Hussein. Supreme Council of the Islamic Revolution in Irak (SCIRI) medapatkan dukungan lisan dari AS melalui pidato George W. Bush lewat radio untuk menggulingkan pemerintahan Saddam Hussein. Akan tetapi pada 28 Maret 1991 Saddam mengumumkan pemberontak Syi’ah Irak selatan dapat dikendalikan, kemudian menyusul 30 maret 1991 pada pemberontak Kurdi

Sedangkan pihak aliansi yang mendukung Irak seperti Yaman dan PLO pun mengalami masa sulit setelah kekalahan perang Irak melawan Kuwait. Hubungan antara Yaman dan Arab Saudi memanas, dan PLO kurang mendapatkan bantuan kembali dari dunia Arab untuk memperjuangkan Palestina.

Mengenai dukungan pada agenda perang Irak kali ini telah jelas menggambarkan bahwa baik AS maupun Liga Arab tidak mendukung kebjakan Saddam Hussein untuk menginvasi Kuwait. Hal ini didsampaikan melalui KTT Kairo pada Agustus 1990 dengan hasil musyawarah setuju untuk membentuk pasukan keamanan guna membantu angkatan bersenjata Arab Saudi dan negara-negara Teluk lainnya.

C.            Dampak Akibat Perang Teluk II
Perang Teluk II yang berlangsung lebih singkat daripada Perang Teluk I, ternyata membawa akibat yang tidak kalah hebatnya dengan Perang Teluk I. Akibat-akibat itu sebagai berikut.
a)             Ladang-ladang minyak Kuwait rusak berat karena dibakar oleh Irak.
b)            Negara dan perekonomian Irak rusak berat karena gempuran tentara multinasional dan blokade ekonomi serta embargo yang diterapkan PBB.
c)             Peranan Amerika Serikat semakin kuat di Timur Tengah.
d)            Kekuatan Israel semakin tidak ada tandingannya.
e)             Timbulnya semangat anti-Amerika.
f)             Perpecahan negara-negara Arab.
g)            Irak membayar ganti rugi.
h)            Irak harus mengizinkan tim inspeksi nuklir PBB memeriksa nuklir Irak.
i)              Irak kena embargo ekonomi.


1 komentar:

  1. Invasi Irak ke Kuwait mendatangkan serangan yang lebih besar ke Irak dari berbagai negara

    BalasHapus