Senin, 03 Februari 2014

Perang Teluk I

I.         PERANG TELUK I
Perang Iran-Irak juga dikenali sebagai Pertahanan Suci dan Perang Revolusi Iran diIran, dan Qadisiyyah Saddam di Irak, adalah perang di antara Irak dan Iran yang bermula pada bulan September 1980 dan berakhir pada bulan Agustus 1988. Kemudian pada awal 1990-an Konflik Iraq-Kuwait meletus dan pada Umumnya, dikenali sebagai Perang Teluk Persia atau Gulf War .

Walaupun perang Iran-Irak yang dimulai dari tahun 1980-1988 merupakan perang yang terjadi di wilayah Teluk Persia, akar dari masalah ini sebenarnya dimulai lebih dari berabad-abad silam. Berlarut-larutnya permusuhan yang terjadi antara kerajaan Mesopotamia(terletak di lembah sungai Tigris-Eufrat, yang kini menjadi sebuah negara Irak modern) dengan kerajaan Persia atau negara Iran modern.

Iran dan Irak merupakan dua negara yang bertetangga, namun keduanya tidak dapat saling akur, hal ini disebabkan karena keduanya merasa sama – sama lebih unggul. Hal ini diperjelas lagi setelah kemenangan kaum revolusioner di Iran yang berhasil menumbangkan rezim monarki dan menggantinya menjadi negara Republik Islam Iran serta ingin mengekspor revolusinya ke negara negara – negara Arab lainnya yang masih berbentuk monarki. Hal ini mendorong Irak untuk tampil sebagai juru selamat bangsa Arab dari ancaman invasi revolusi Iran.

A.       Faktor-Faktor yang Menyebabkan Terjadinya Perang Teluk I
Ada beberapa hal yang disebut-sebut  memicu meletusnya perang antara Irak melawan Iran di mana hal-hal tersebut  menyangkut  berbagai aspek, utamanya aspek polit ik & sektarian :
1.        Sengketa Atas Shatt al-Arab & Khuzestan
Shatt al-Arab adalah sungai sepanjang 200 km yang terbentuk dari pertemuan Sungai Efrat  & Tigris di kota Al-Qurnah, Irak selatan, dimana bagian akhir dari sungai yang mengarah ke Teluk Persia tersebut terletak di perbatasan Irak & Iran. Sungai tersebut  utamanya penting bagi Irak karena merupakan jalan keluar utama negara tersebut  ke arah laut.
Karena letaknya yang berada di perbatasan & posisi strategisnya yang mengarah ke Teluk Persia, sungai tersebut  menjadi bahan sengketa Irak & Iran. Sebelum perang antara kedua meletus, sejak tahun 1975 sungai tersebut  menjadi milik kedua negara di mana batasnya adalah pada titik terendah sungai berdasarkan Persetujuan Aljier (Algier Accord).
Wilayah lain yang menjadi sengketa kedua negara adalah provinsi Khuzestan yang kaya minyak. Wilayah tersebut selama ini menjadi wilayah Iran, namun sejak tahun 1969 Irak mengklaim bahwa Khuzestan berada di tanah Irak & wilayah tersebut  diserahkan ke Iran ket ika Irak dijajah oleh Inggris. Lebih lanjut , stasiun TV milik Irak bahkan memasukkan Khuzestan sebagai wilayah Irak & menyerukan warga Arab di sana untuk memberontak melawan Iran.

2.        Munculnya Revolusi Islam di Iran
Tahun 1979 merupakan tahun terpent ing dalam sejarah Iran modern hingga menjadi seperti Iran sekarang. Di tahun itu, terjadi revolusi pemerintahan di mana rezim kerajaan Pahlevi yang dianggap sebagai rezim boneka AS tumbang & digantikan oleh sistem republik Islam. Pasca revolusi tersebut , muncul kekhawatiran dikalangan nasionalis Arab & Muslim Sunni bahwa revolusi tersebut akan menyebar ke negara-negara Arab di sekitarnya. Kekhawatiran terbesar terutama datang dari Irak yang wilayahnya memang bersebelahan dengan Iran & memiliki penganut  Syiah berjumlah besar di wilayahnya.
Ayatullah Khomeini, pemimpin revolusi Islam di Iran, memang memiliki impian untuk menyebarkan pengaruh revolusinya ke negara-negara Arab lainnya. Pertengahan tahun 1980, Khomeini menyebut  bahwa pemerintahan sekuler Irak adalah pemerintahan "boneka setan" & masyarakat  Muslim di Irak sebaiknya bersatu untuk mewujudkan revolusi Islam seperti di Iran. Pernyataan Khomeini tersebut  sekaligus sebagai respon dari pernyataan Saddam pasca revolusi Islam Iran yang menyatakan bahwa bangsa Persia (Iran) tidak akan berhasil membalas dendam kepada bangsa Arab sejak Pertempuran al-Qadisiyyah, pertempuran pada abad ke-7 yang dimenangkan oleh bangsa Arab sekaligus menumbangkan Kerajaan Persia kuno.
Irak di bawah kendali Saddam Hussein & Partai Baath memiliki ambisi untuk menjadi kekuatan dominan di wilayah Arab di bawah bendera pan Arabisme sejak meninggalnya Presiden Mesir, Gamal A. Nasser. Revolusi Islam yang terjadi di Iran tersebut dianggap sebagai penghalang karena bertentangan dengan prinsip nasionalisme sekuler Arab. Selain untuk mencegah menyebarnya revolusi Islam, Irak juga berusaha mengambil keuntungan dengan kondisi internal Iran yang tidak stabil pasca revolusi Islam untuk merebut  wilayah-wilayah yang menjadi bahan sengketa dengan Iran & menambah sumber minyak Irak.

3.        Percobaan Pembunuhan Terhadap Pejabat  Irak
Pertengahan tahun 1980, terjadi percobaan pembunuhan kepada Deputi Perdana menteri Irak, Tariq Aziz. Irak kemudian menangkap sejumlah orang yang diduga terlibat atas percobaan pembunuhan tersebut  & mendeportasi ribuan warga Syiah berdarah Iran keluar dari Irak. Pemimpin Irak, Saddam Hussein, menyalahkan Iran sambil menyebut  ada agen Iran yang terlibat  dalam peristiwa tersebut . Peristiwa itu selanjutnya semakin memanaskan hubungan kedua negara hingga akhirnya pada bulan September 1980, Irak melancarkan serangannya ke Iran.

            Dapat pula disebutkan sebab umum dan sebab khusus perang Teluk I. Sebab umum perang perang Iran – Irak antara lain : 
1)      Kedua negara tidak mau mengakui keunggulan masing – masing.
2)      Masalah minoritas etnis.
3)      Perbedaaan orientasi politik luar negeri
4)      Irak beruasaha untuk merebut kembali beberapa daerah Arab yang telah di klaim oleh Iran (Shatt al – Arab dan tiga pulau kecil di selat Hormus menurut perjanjian Algiers tahun 1975).
Sedangkan sebab khusus Perang Iran – Irak antara lain :
1)        Adanya serangan granat pada tanggal 1 April 1980 terhadap wakil PM Irak Tariq Aziz yang diduga didalangi oleh Iran.
2)        Adanya pengusisran ribuan keturunan Iran oleh sadam, serta melancarkan serangan yang sengit terhadap pribadi Khomeini dan membatalkan perjanjian Algiers. Sedangkan Menlu Iran Shodeh Godzadeh berjanji untuk menumbangkan rezim Baath yang berkuasa di Irak serta memutuskan hubungan diplomatik.
3)        Kedua negara saling menempatkan pasukan masing – masing di daerah perbatasan dalam jumlah yang cukup besar (Subaryana, 1997 : 28 – 29).

B.     Kronologi Terjadinya Perang Teluk I
Dalam melancarkan serangannya tersebut, terjadi penyerbuan-penyerbuan yang dilakukan untuk mendapatkan daerah-daerah yang diinginkan. Bermacam-macam cara dilakukan untuk sebuah kemenangan.

1.         Tahun 1980-1982 : Penyerbuan Oleh Irak
Ada 2 sasaran Irak dalam serangannya ke Iran : menguasai wilayah-wilayah strategis serta kaya minyak di Iran & mencegah tersebarnya revolusi Islam ke negara-negara sekitarnya. Dalam serangannya, Irak menginginkan kemenangan cepat  atas Iran dengan memanfaatkan situasi internal Iran yang masih belum stabil pasca revolusi Islam. Irak juga berharap kalau masyarakat  di Iran akan menyalahkan pemerintahan baru negaranya sehingga sebagian dari mereka terutama dari golongan Arab Sunni -  kemudian akan membelot  kepada Irak.
Tanggal 22 September 1980, jet-jet tempur Irak menyerang 10 pangkalan udara milik Iran dengan tujuan menghancurkan pesawat  tempur Iran di darat, taktik yang dipelajari dari kemenangan Israel atas Arab dalam Perang 6 Hari. Serangan dari pasukan udara Irak berhasil menghancurkan gudang amunisi & jalur transportasi darat, namun sebagian besar pesawat  Iran tetap utuh karena terlindung dalam hanggar yang terlindungi secara khusus. Kegagalan Irak menghancurkan pesawat-pesawat  tempur Iran dalam serangan kejutan tersebut  memberi peluang bagi Iran untuk melancarkan serangan udara balasan ke Irak.
Sehari kemudian, Irak melakukan serangan darat  ke wilayah Iran dari 3 front  sekaligus. Inti dari serangan tersebut  adalah untuk menguasai Khuzestan & Shat t  al-Arab di mana 4 dari 6 divisi pasukan Irak dalam penyerbuan dikirim untuk menguasai kedua wilayah tersebut. Sisanya dipecah jadi 2 untuk menguasai front utara (Qasr-e Shirin) & f ront  tengah (Mehran) untuk mengantisipasi serangan balik yang mungkin dilakukan oleh Iran. Hasilnya, usai serangan mendadak itu Irak berhasil menguasai wilayah Iran seluas 1.000 km persegi.
Bulan November 1980, pasukan Irak melancarkan serangan ke 2 kota penting yang strategis di Iran selatan, Shabadan & Khorramshahr. Dalam penyerbuannya itu, pasukan Irak mendapat  perlawanan sengit dari pasukan Pasdaran (Garda Revolusi) Iran. Kedua kota tersebut akhirnya berhasil dikuasai Irak pada tanggal 10 November 1980. Tercatat  belasan ribu pasukan dari kedua kubu terbunuh dalam pertempuran di kedua kota tersebut. Keberhasilan Irak menguasai kedua kota tersebut  sekaligus menjadi keberhasilan terakhir Irak mencaplok wilayah mayor dari Iran.
Iran yang tertekan sempat  berusaha melakukan serangan balasan kepada Irak pada awal tahun 1981, namun gagal karena presiden Iran, Bani Sadr, nekat  memimpin langsung pasukan reguler Iran sekalipun dia hanya memiliki pengetahuan militer yang minim. Ia mengirimkan 3 resimen pasukan reguler tanpa didukung oleh Pasdaran & tidak memperhitungkan waktu serangan di saat hujan yang bakal menyulitkan suplai logistik. Akibatnya, pasukan Iran dikepung pasukan Irak & banyak dari kendaraan lapis baja Iran yang hancur atau perlu ditinggalkan karena terjebak dalam lumpur.
Serangan balasan Iran yang jauh lebih efektif  sebenarnya sudah dilakukan beberapa hari sejak Irak pertama kali membombardir pangkalan udara milik Iran. Pesawat-pesawat  F-4 milik Iran melakukan serangan ke wilayah Irak & secara efektif  berhasil melumpuhkan sejumlah titik penting di sana. Keberhasilan tersebut membuat  pasukan udara Iran terlihat  lebih superior dibandingkan pasukan udara Irak. Namun, kurangnya amunisi & suku cadang yang hanya bisa didapatkan dari AS  negara sekutu Iran yang berbalik memusuhi Iran pasca revolusi Islam  membuat  Iran seiring waktu jadi lebih banyak memakai helikopter yang dipasangi persenjataan darat  sebagai pendukung pasukan dari udara.

2.         Tahun 1982 : Titik Balik & Mundurnya Irak
Pasukan Irak dalam serangan kilatnya berhasil memanfaatkan momentum lemahnya koordinasi pasukan Iran & problem alutsista milik Iran sehingga para pengamat yakin bahwa perang akan segera berakhir dengan kemenangan Irak hanya dalam waktu beberapa minggu. Plus, Irak memang berhasil menguasai wilayah-wilayah strategis Iran dalam serangannya itu. Namun, Iran enggan menyerah begitu saja & dalam perkembangannya berhasil memukul balik Irak.
Problem bagi Iran dalam perang adalah dari segi alutsista atau persenjataan, mereka kalah superior dibanding Irak yang saat  itu memang merupakan salah satu negara dengan kekuatan militer terbaik di Timur Tengah selain Israel. Untuk mengantisipasinya, sejak perang meletus Iran merekrut ratusan ribu milisi sukarela yang disebut Basij (Tentara Rakyat). Basij tidak memiliki pengalaman militer & persenjataan yang memadai, namun mereka memiliki keyakinan sangat tinggi akan agamanya & tidak segan-segan melakukan tindakan berani mati semisal menerobos ladang ranjau atau area yang dihujani tembakan artileri musuh saat  diperintahkan.
Pasukan Irak di wilayah Iran dalam perkembangannya tidak bisa bergerak lebih jauh lagi sejak bulan Maret 1981 setelah pasukan mereka dikalahkan oleh milisi Basij yang jumlahnya mencapai ribuan di Sungai Kanun. Sejak itu, Irak lebih banyak melakukan taktik defensif  untuk mempertahankan wilayah taklukan mereka & hanya terjadi sedikit  pergeseran di garis depan. Faktor utamanya adalah kesalahan prediksi di mana Irak memperkirakan warga Arab Sunni di Iran bakal membantu mereka. Namun faktanya, mereka bersama rakyat Iran lainnya justru bersatu dan bahu-membahu melawan Irak.
Titik balik bagi Iran terjadi pada bulan Maret  1982 dalam operasi militernya di bawah kode sandi "Operasi Kemenangan yang Tak Dapat  Disangkal" (Operation Undeniable Victory). Dalam operasi militer tersebut , pasukan gabungan Pasdaran-Basij milik Iran berhasil menembus garis depan pasukan Irak yang sebelumnya dianggap tidak bisa ditembus & memecah pasukan Irak di utara & selatan Khuzestan sehingga pasukan Irak terpaksa mundur.
Bulan Mei 1982, Iran berhasil merebut  kembali wilayah Khorramshahr. Dalam pertempuran memperebutkan wilayah tersebut , Irak kehilangan 7.000 tentara, sementara Iran 10.000 sehingga menjadikan pertempuran itu sebagai salah satu pertempuran paling berdarah dalam inisiatif  serangan balik Iran. Sejak kemenangan tersebut , Iran berganti menjadi pihak yang menekan Irak dan pada bulan Juni berhasil mendapatkan kembali seluruh wilayahnya yang sebelumnya dikuasai oleh Irak.
Saddan Hussein yang melihat  bahwa moral pasukannya sudah terlanjur runtuh akibat  serangkaian kekalahan melawan Iran pun menyatakan akan segera menarik seluruh pasukannya dari Iran & menawarkan gencatan senjata kepada Iran. Tawaran gencatan senjata itu mencakup pembayaran ganti rugi perang sebesar 70 juta dollar AS oleh negara-negara Arab. Iran menolak tawaran gencatan senjata tersebut  sambil menyatakan bahwa mereka akan menyerbu Irak & tidak akan berhenti sampai rezim yang berkuasa di Irak digantikan oleh pemerintahan republik Islam.

3.         Tahun 1982-1988 : Penyerbuan Oleh Iran
Bulan Juli 1982, Iran melancarkan serangannya ke kota Basra, Irak, di bawah kode sandi "Operasi Ramadhan". Dalam serangan tersebut, puluhan ribu anggota Basij & Pasdaran mengorbankan diri mereka dengan berlari melewati ladang ranjau untuk memberi jalan bagi tank-tank di belakangnya di mana selain menghadapi bahaya ranjau, mereka juga dihujani tembakan artileri pasukan Irak. Irak berhasil mencegah Iran merengsek lebih jauh berkat ketangguhan persenjataannya di garis pertahanan, namun Irak juga harus kehilangan sejumlah kecil wilayah karena dikuasai Iran.
Keberhasilan Iran memukul balik Irak & berbalik menjadi negara penyerbu membawa kekhawat iran tersendiri bagi AS yang kemudian memutuskan untuk membantu Irak sejak tahun 1982. Presiden AS, Ronald Reagan, menyatakan bahwa negaranya akan berusaha membantu dengan cara apapun untuk mencegah Irak kalah. Selain dari AS, dukungan untuk Irak juga datang dari Uni Soviet  & Liga Arab. Di lain pihak, Iran sendiri selama perang hanya mendapat dukungan secara terbuka dari Suriah & Libya.
Karena keberpihakan terang-terangan AS ke Irak, maka cukup mengejutkan ketika AS diketahui juga membantu Iran dengan jalan menjual persenjataan ke Iran secara diam-diam (dikenal sebagai skandal Iran-Contra). Henry Kissinger, salah satu tokoh penting Gedung Putih,  menyatakan bahwa AS merasa baik Irak & Iran sama-sama tidak boleh kalah untuk mencegah dominasi dari pihak pemenang di kawasan tersebut. Israel juga dikabarkan menjual persenjataan ke Iran secara diam-diam kendati kedua negara tidak lagi menjalin hubungan diplomatik pasca Revolusi Islam di Iran, namun Iran sendiri hingga sekarang selalu membantah kabar tersebut.
Kembali ke medan perang, Iran berpikir bahwa Irak bisa direbut  dengan melacarkan serangan besar-besaran dari berbagai front. Maka pada tahun 1983, Iran melakukan 3 penyerbuan besar yang disusul 2 penyerbuan lainnya dengan mengerahkan ratusan ribu personil tentaranya. Iran sempat  berhasil menembus garis pertahanan Irak, namun Irak berhasil memukul balik Iran dengan melakukan serangan udara mendadak secara besar-besaran. Hingga akhir tahun 1983, tercatat  120.000 personil Iran & 60.000 personil Irak tewas dalam peperangan.
Irak berusaha memaksa Iran menghentikan perang & menuju meja perundingan dengan berbagai cara. Di awal tahun 1984, Irak membeli sejumlah alutsista baru dari Uni Soviet  & Prancis. Tak lama kemudian, Irak melakukan serangan udara ke sejumlah kota dengan persenjataan barunya itu. Irak berharap Iran merasa tertekan & kemudian menerima tawaran dari Irak untuk berunding di tempat  netral, namun nyatanya Iran tetap menolak tawaran berunding dari Irak.
Iran yang kehilangan begitu banyak personilnya akibat  sejumlah penyerbuan yang gagal sebelumnya belum mengendurkan serangan. Bulan Februari 1984, Iran menggelar "Operasi Fajar" (Operation Dawn) yang ditargetkan ke kota Kut  al-Amara dengan tujuan memotong jalur perairan yang menghubungkan Baghdad & Basra. Dalam operasi militer itu, Iran mengerahkan 500.000 personil Basij & Pasdaran.
Pertempuran dalam Operasi Fajar sekaligus menjadi seperti head-to-head kekuatan militer yang dominan di masing-masing negara. Iran unggul jumlah tentara tapi kekurangan alutsista pendukung macam pasukan udara & artileri sehingga Iran banyak menjalankan taktik mengerubungi pertahanan musuh dengan tentara (human wave attack), sementara Irak kalah jauh dalam hal jumlah tentara tapi unggul dalam hal alutsista. Periode antara tanggal 29 Februari hingga 1 Maret  merupakan salah satu episode pertempuran terbesar dalam Perang Irak-Iran di mana dalam pertempuran itu, masing-masing pihak kehilangan 20.000 tentaranya.
Iran kembali melancarkan agresi militer antara akhir Februari hingga Maret  1984 di bawah kode sandi "Operasi Khaibar" dengan memakai sejumlah serangan pendobrak ke Kota Basra. Agresi militer tersebut berujung keberhasilan pasukan Iran merebut  Pulau Majnun yang kaya minyak. Irak sempat  melancarkan serangan balik untuk merebut  wilayah tersebut , termasuk dengan memakai senjata kimia. Namun pasukan Iran tetap berhasil mempertahankan pulau tersebut  hingga menjelang akhir perang.
Walaupun berada pada posisi tertekan, pada tahun 1985 Irak masih sempat  melakukan penyerbuan balik ke Iran dengan menyerang Tehran & kota-kota pent ing lainnya di Iran usai mendapatkan bantuan finansial dari negara-negara Arab sekutunya & bantuan alutsista terbaru dari Uni Soviet, Cina, & Perancis. Serangan Irak tersebut tidak membawa perubahan yang signifikan dalam alur peperangan karena sekalipun wilayahnya diserang, di tahun yang sama Iran tetap melakukan penyerbuan ke wilayah Irak di bawah kode sandi "Operasi Badar".

4.         Tahun 1984-1988 : Perang Taker
Tahun 1984, Irak yang baru mendapat  bantuan pesawat  tempur Super Etentard terbaru dari Perancis melakukan operasi militer di laut  mulai dari muara Shat t’ el-Arab hingga pelabuhan Iran di Bushehr. Target  dari operasi militer tersebut  adalah semua kapal yang bukan berbendera Irak di wilayah operasi militer, baik itu kapal berbendera Iran maupun kapal netral yang dari atau menuju Tehran. Tujuannya adalah untuk memblokade ekpsor minyak Iran & mempengaruhi ekonominya sehingga Iran mau berunding dengan Irak. Kebijakan militer Irak tersebut  lalu mengawali babak baru dalam perang yang dikenal sebagai "perang tanker".
Jika ditelusuri, sebenarnya perang tanker sudah dimulai sejak tahun 1981 di mana pasukan laut  Irak saat  itu menargetkan titik- titik penting milik Iran di laut seperti pelabuhan & kilang minyak. Dalam operasi militernya di laut  tersebut, Irak lebih banyak memakai angkatan udaranya untuk melakukan serangan. "Perang tanker fase I" tersebut  berlangsung selama 2 tahun setelah baik Irak maupun Iran kekurangan armada kapal untuk meneruskan operasi militernya. Baru pada tahun 1984, Irak memutuskan untuk kembali melakukan operasi militer di laut  sekaligus mengawali babak baru "perang tanker fase II".
Perang tanker fase II dimulai ketika Irak menyerang kapal berbendera Yunani di sebelah selatan Kepulauan Khark pada bulan Maret  1984. Iran lantas membalasnya dengan menyerang kapal-kapal berbendera Kuwait di dekat Bahrain & Arab Saudi di perairan Arab Saudi sendiri. Serangan tersebut sekaligus menjadi peringatan dari Iran bahwa jika Irak tetap nekat melanjutkan perang tanker, tak akan ada kapal milik negara Teluk yang bakal selamat. Suatu ancaman yang dampaknya tidak ringan karena berpotensi melumpuhkan aktivitas pengangkutan minyak mentah di kawasan tersebut.
Upaya Irak untuk memblokade jalur transportasi minyak Iran gagal melumpuhkan ekonomi Iran karena ketika Irak memblokade kawasan teluk, Iran hanya memindahkan pelabuhannya ke Kepulauan Larak di dekat  Selat  Hormuz sehingga aktivitas ekspor minyaknya relatif  tidak terganggu. Di lain pihak, justru Irak yang perekonomiannya terancam setelah Suriah, sekutu Iran saat itu memblokade pipa minyak Irak ke Mediterania sejak tahun 1982. Sebagai antisipasinya, Irak pun mengalihkan aktivitas ekspor minyaknya lewat Kuwait dan jalur pipa minyak baru dibangun melewati Laut  Merah serta Turki.

5.         Tahun 1987-1988 : Ikut Campurnya Amerika Serikat (AS)
Situasi perang tanker yang semakin membabi buta karena ikut  menargetkan kapal-kapal tanker dari negara-negara yang netral membuat  Kuwait  meminta bantuan pihak internasional pada tahun 1986. Uni Soviet adalah negara pertama yang merespon dengan mengirimkan kapal-kapal perangnya untuk mengawal kapal tanker Kuwait. Kebijakan Uni Soviet  lalu diikuti oleh AS pada tahun 1987 yang sebenarnya sudah didekati Kuwait  lebih dulu.
Ikut campurnya AS dalam Perang Irak- Iran sebenarnya disebabkan karena kapal perangnya, USS Stark, tertembak oleh pesawat  tempur Irak sehingga 13 awak kapalnya meninggal. Irak meminta maaf  kepada AS sambil mengatakan bahwa itu adalah kecelakaan. Ironisnya, AS justru malah menyalahkan Iran dengan alasan Iranlah yang menyebabkan peperangan semakin berkobar & kemudian diikuti dengan tindakan AS untuk mengirim armada lautnya untuk mengawal kapal-kapal tanker milik Kuwait yang mengibarkan bendera AS.
Tujuan utama AS dalam penerjunan armada lautnya di sekitar Teluk adalah untuk mengisolasi Iran & menjaga agar kapal-kapal bebas berlayar di sana. AS baru melancarkan serangan langsung ke Iran dengan menghancurkan kilang minyak Iran di ladang minyak Rostam setelah pasukan Iran menenggelamkan kapal tanker Kuwait  berbendera AS, Sea Isle City. Setahun kemudian, tepatnya bulan April 1988, AS kembali menyerang kilang minyak & kapal-kapal perang Iran setelah kapal perangnya, USS Samuel B. Roberts, tenggelam akibat  ranjau laut  Iran.
Tanggal 3 Juli 1988, kapal perang AS, USS Vincennes, menembak jatuh pesawat sipil Iran sehingga seluruh penumpang & awak pesawatnya tewas. AS berdalih kalau pasukannya salah mengira bahwa pesawat sipil tersebut adalah pesawat tempur Iran karena tidak mengidentifikasikan dirinya ke kapal perang sebagai pesawat sipil. Namun, klaim AS tersebut  dibantah oleh Iran dan sumber independen lainnya seperti bandara Dubai yang menyatakan kalau pesawat tersebut sudah mengidentifikasikan dirinya ke kapal AS sebagai pesawat sipil melalui radio.

6.         Tahun 1988 : Gencatan Senjata dan Pasca Perang
Antara bulan April hingga bulan Agustus 1988, arah pertempuran mulai kembali menguntungkan Irak setelah Irak berhasil meraih beberapa kemenangan penting atas Iran. Dalam pertempuran pada kurun waktu tersebut, Irak juga berhasil merebut sejumlah besar alutsista milik Iran & menguasai kembali Semenanjung Al-Faw serta Kepulauan Majnun yang kaya minyak. Iran yang mulai terdesak akhirnya mau menerima Resolusi Dewan Keamanan PBB 598 sehingga Perang Irak- Iran yang sudah berlangsung selama 8 tahun pun berakhir pada tanggal 20 Agustus 1988.
Perang Iran- Irak membawa kerugian besar bagi kedua belah pihak, baik dari segi material dan korban jiwa. Jumlah kerugian material bagi masing-masing negara diperkirakan mencapai 500 juta dollar AS. Sebagai akibatnya, pembangunan ekonomi menjadi terhambat dan ekspor minyak kedua negara terganggu. Jumlah kerugian lebih besar harus ditanggung Irak yang selama perang memangaktif mencari pinjaman uang untuk menambah alutsista.
Tidak diketahui secara pasti berapa jumlah korban tewas dalam Perang Irak-Iran. Beberapa sumber memperkirakan bahwa jumlah korban tewas Irak mungkin mencapai 200.000 jiwa lebih, sementara Iran mencapai 1 juta jiwa sebagai akibat dari taktik militer Iran yang banyak mengorbankan tentaranya untuk berhadap-hadapan langsung dengan moncong senjata musuh. Jumlah tersebut  belum termasuk mereka yang meninggal kemudian akibat  luka parah dan penyakit, termasuk akibat penggunaan senjata kimia Irak yang berdampak jangka panjang.
Selain kerugian material dan korban jiwa, tidak ada perubahan berarti pasca perang. Wilayah-wilayah yang menjadi bahan sengketa statusnya kembali seperti sebelum perang dan batas antara kedua negara juga tidak banyak berubah. Wilayah perairan Shatt al-Arab contohnya, tetap dibagi menjadi milik kedua negara dengan batasnya adalah titik terdalam pada perairan. Pasca perang, kedua negara juga melakukan perbaikan hubungan bilateral.

C.     Dampak yang Timbul Setelah Terjadinya Perang
Tak dapat dipungkiri bahwa semua perang terutama perang fisik tentulah berakibat pada jatuhnya korban jiwa. Dalam Perang Iran-Irak ini tidak hanya dirasakan oleh satu pihak saja tetapi oleh keduanya. Adapun dampak kerugian dari Perang Irak-Iran ini antara lain :
1)      Kerugian besar bagi kedua belah pihak, dari segi material jumlah kerugian material bagi masing-masing negara diperkirakan mencapai 500 juta dollar AS.
2)      Jumlah korban jiwa, jumlah korban tewas Irak mungkin mencapai 200.000 jiwa lebih, sementara Iran mencapai 1 juta jiwa sebagai akibat dari taktik militer Iran yang banyak mengorbankan tentaranya untuk berhadap-hadapan langsung dengan moncong senjata musuh. Jumlah tersebut belum termasuk mereka yang meninggal kemudian akibat luka parah dan penyakit, termasuk akibat penggunaan senjata kimia Irak yang berdampak jangka panjang.
3)      Jumlah kerugian lebih besar harus ditanggung Irak yang selama perang memang aktif mencari pinjaman uang untuk menambah persenjataan.
4)      Pembangunan ekonomi menjadi terhambat dan ekspor minyak kedua negara terganggu.
5)      Selain kerugian materi dan korban jiwa, tidak ada perubahan berarti pasca perang. Wilayah-wilayah yang menjadi bahan sengketa statusnya kembali seperti sebelum perang dan batas antara kedua negara juga tidak banyak berubah. Wilayah perairan Shatt al-Arab contohnya, tetap dibagi menjadi milik kedua negara dengan batasnya adalah titik terdalam pada perairan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar