I.
FAKTA DAN SEJARAH KONFLIK ARAB-ISRAEL
Berikut
merupakan kronologi perseteruan antara Arab dengan Israel
1948
M Inggris mundur dari Palestina karena mandatnya dari PBB sudah habis. Para
pemukim Yahudi mengumumkan kemerdekaan negara Israel, sambil melakukan agresi
bersenjata terhadap rakyat Palestina yang masih amat lemah, sehingga
menimbulkan peperangan dengan negara-negara Arab tetangganya. Sebelum
pelaksanaan pembagian wilayah, Israel berhasil merebut daerah Arab Palestina
yang telah ditetapkan PBB. Sedangkan tepi barat (wilayah Yordania) Jalur Gaza
(wilayah Mesir) masih berada di tangan Arab.
1948
13 Mei Atas perintah Inggris pasukan Yordania yang dipimpin oleh panglima
bangsa Inggris ditarik dari Palestina bersama pencegahan passukan-pasukan Arab
lainnya memasuki Palestina. Itu semua menjelang habisnya masa perwalian Inggris
di Palestina. Gerombolan-gerombolan bersenjata Zionis menyerang dan membantai
Pribumi Palestina termasuk perempuan dan anak-anak dalam jumlah yang mengerikan
di
ssetiap kota dan desa, antara lain Dyr Yassin, Haifa, Yerussalem, Jaffa dan
Theberia dll. Kota-kota dan desa-desa tersebut direbut dan penduduknya
mereka kosongkan, sebagian terbantai dan sebagian mengungsi ke luar.
ssetiap kota dan desa, antara lain Dyr Yassin, Haifa, Yerussalem, Jaffa dan
Theberia dll. Kota-kota dan desa-desa tersebut direbut dan penduduknya
mereka kosongkan, sebagian terbantai dan sebagian mengungsi ke luar.
1948
14 Mei Yahudi mengumumkan berdirinya negara Zionis Israel disaat yang tepat,
yaitu sehari sebelum Inggris resmi meninggalkan Palestina dalam masa perwaliannya
yang hampir habis. Hingga lahirlah negara baru Israel dalam perlindungan
imperialis Inggris. Suatu perencanaan yang paling cermat dalam sejarah
imperialisme.
1948
15 Mei Inggris resmi meniggalkan Palestina saat agresi Yahudi
bersenjata masih berlangsung terhadap rakyat Palestina yang masih amat
lemah. Suatu kesempatan bagi Yahudi untuk menduduki lebih banyak lagi
wilayah sebelum pelaksanaan pembagian wilayah oleh PBB bila sudah
diserahkan Inggris. Gerombolan Zionis Israel dari gerombolan Hagana, Irgun dan lainnya dengan brutal masih menyerbu, kini ke Negeve (selatan Palestina) di saat pejuang Palestina makin terpojok. Dua negar Arab, Irak dan Yordania di bawah Abdullah dan Raja Abdullah telah diatur oleh Inggris berkhianat kepada rakyat Palestina. Belakangan diketahui bahwa tanpa sepengetahuan dunia Arab, Raja Abdullah telah berkhianat dengan membuat persetujuan rahasia dengan Inggris. Ia menyetujui pembagian Palestina. Ini disembunyikan dengan rapi, dengan membuat pernyataan palsu tentang pembelannya terhadap Palestina.
bersenjata masih berlangsung terhadap rakyat Palestina yang masih amat
lemah. Suatu kesempatan bagi Yahudi untuk menduduki lebih banyak lagi
wilayah sebelum pelaksanaan pembagian wilayah oleh PBB bila sudah
diserahkan Inggris. Gerombolan Zionis Israel dari gerombolan Hagana, Irgun dan lainnya dengan brutal masih menyerbu, kini ke Negeve (selatan Palestina) di saat pejuang Palestina makin terpojok. Dua negar Arab, Irak dan Yordania di bawah Abdullah dan Raja Abdullah telah diatur oleh Inggris berkhianat kepada rakyat Palestina. Belakangan diketahui bahwa tanpa sepengetahuan dunia Arab, Raja Abdullah telah berkhianat dengan membuat persetujuan rahasia dengan Inggris. Ia menyetujui pembagian Palestina. Ini disembunyikan dengan rapi, dengan membuat pernyataan palsu tentang pembelannya terhadap Palestina.
1948
Oktober Akhirnya Yahudi merebut Negeve (Negeb) karena segala kemudahan dari
Inggris, disebabkan pula oleh keterpukauan para pemimpin Arab saat itu. Inggris
menyadari benar arti pentingnya Negeve untuk menguasai terusan Suez.
1948
2 Desember Protes keras Liga Arab karena tindakan Amerika serta usaha-usaha sekutunya
Inggris berupa dorongan-dorongan dan fasilitas yang mereka berikan terus bagi
imigrasi Zionis ke Palestina.
1956
Presiden Mesir Gamal Abdul Nasser menasionalisasikan terusan Suez. 29 Oktober
Israel dengan bantuan pasukan Inggris dan Perancis melancarkan serangan ke
semenanjung Sinai sampai mendekati terusan Suez. Karena mendapatkan tekanan
dari Amerika Serikat, Inggris dan Perancis menarik pasukannya. Peristiwa ini
sebagai bukti, Zionis adalah ujung tombak imperialis Barat di Timur Tengah.
1958
Perang saudara di Libanon meletus untuk pertama kalinya sebagai kelanjutan dari
politik devide et impera yang ditanamkan Inggris dan Zionis. 1964 Para pemimpin
Arab memutuskan pembentukan PLO (Palestina Liberation Organitation).
1967
Israel menyerang Mesir, Yordania dan Syiria selama enam hari dengan dalih
serangan pencegahan. Israel berhasil merebut semenanjung Sinai dan jalur Gaza
(Mesir), dataran tinggi Golan (Syria), Tepi Barat dan Yerussalem (Yordania).
Israel dengan mudah menghancurkan angkatan udara ketiga negara itu karena
memperoleh bantuan informasi intelejen yang berasal dari Amerika sebelum
melaksanakan serangan itu.
1967
Nov. Dewan keamanan PBB mengeluarkan resolusi nomor 242, untuk perintah
penarikan mundur Israel dari wilayah yang direbutnya dalam perang enam hari,
pengakuan semua negara di kawasan itu dan menyelesaikan secara adil masalah
pengungsi Palestina.
1968
Israel melancarkan serangan ke Libanon dengan sasaran pangkalan pejuang
Palestina di kamp pengungsi Karameh, namun kemudian dipukul mundur oleh pejuang
Palestina dan tentara Yordania.1969 Yasser Arafat terpilih sebagai ketua Komite
Eksklusif PLO.
1970
Karena kekuatan-kekuatan kelompok-kelompok gerilyawan Palestina di Yordania
semakin kuat dan berbagai pembajakan pesawat sebagai publikasi perjuangan
rakyat Palestina, menimbulkan permusuhan antara PLO dan Yordania, karena negara
itu sebagai basis PLO dikecam oleh opini dunia. Akibatnya timbul perang saudara
antara PLO dengan Yordania dan berakhir dengan pengusiran markas PLO dari
Yordania ke Libanon.
1973
6 Oktober Mesir dan Syiria menyerang pasukan Israel di semenanjung Sinai dan
dataran tinggi Golan pada hari puasa Yahudi Yom Kippur, untuk merebut kembali wilayahnya
yang diduduki Israel. Pertempuran ini dikenal dengan Perang Oktober.
1973
22 Oktober Dewan Keamanan PBB mengeluarkan resolusi 338, sebagi perintah
gencatan senjata, pelaksanaan resolusi 242 dan perundingan
perdamaian di Timur Tengah.
perdamaian di Timur Tengah.
1974
PLO ditegaskan sebagi wakil yang sah dari bangsa Palestina dalam sebuah
konferensi puncak Negara-negara Arab di Rabat, Marokko.
1975
Kembali meletus perang saudara antar golongan di Libanon sebagai buah dari
bibit yagn ditanam dulu oleh imperialis dan Zionis.
1977
Presiden Mesir Anwar Sadat pergi ke Yerussalem tanpa berkonsultasi dengan Liga
Arab. Ia menawarkan perdamaian, jika Israel bersedia mengembalikan seluruh
semenanjung Sinai. Tindakan ini mengakibatkan sistem Arab pecah menjadi
beberapa kubu dan pertentangan pandangn politiknya. Negara-negara Arab mengecam
pemimpin Mesir itu sebagai pengkhianat.
1978
September Mesir dan Israel menandatangani perjanjian Camp David yang diprakarsai
oleh Amerika Serikat. Perjanjian itu memberikan otonomi terbatas kepada Rakyat
Palestina di wilayah-wilayah pendudukan. Israel tetap menolak perundingan
dengan PLO dan PLO menolak otonomi. Peristiwa ini mengakibatkan Mesir terisolir
dari gelanggang politik Arab.
1979
17 Menteri Luar Negeri yang secara kolektif merupakan dewan Liga Arab membentuk
Komite Solidaritas Arab mengatasi gejolak-gejolak perpecahan di dalam sistem
Arab.
1979
Ayatullah Khomeine memaklumkan Revolusi Islam di Iran yang
menumbangkan rezim Syah Reza Pahlevi.
menumbangkan rezim Syah Reza Pahlevi.
1980
Israel secara sepihak menyatakan bahwa mulai musim panas 1980 kota Yerussalaem
yang didudukinya itu resmi sebagai ibukota Israel. Suatu Kesewenangan yang
kesekian kalinya menampar prinsip keadilan di bumi ini. 1980 Pecah perang
Iran-Irak yang berkepanjangan sampai 8 tahun.
1982
Juni hingga Nopember Israel menyerang Libanon (mereka menamakan operasi
Galilea), dan bersama-sama milisi Phalangis membantai ratusan orang Palestina
di perkemahan kaum pengungsi Sabra dan Shatila di Beirut. Pemimpin Phalangis
Bashir Gemayel terbunuh.
1983
Kedutaan besar Amerika Serikat dan Markas Korps Marinir Amerika di Beirut
diledakan bom mobil bunuh diri.
1987
‘Intifadah’ – perlawanan oleh orang-orang Palestina tanpa senjata terhadap
tentara Israel mulai meledak di wilayah pendudukan Israel di Tepi Barat dan
Jalur Gaza.
1988
Des. Menlu Amerika, George P. Schultz membenarkan pembukaan dialog dengan PLO
setelah Arafat mau mengakui hak keberadaan negara Israel.
1989
Mei Perdana Menteri Israel, Yitzhak Shamir, menyerukan pengakhiran keadaan
perang antara negara-negara Arab dan Israel, dan pengakhiran boikot Arab
terhadap Israel, serta mengajukan rencana perundingan perdamaian Arab-Israel,
tetapi menolak berunding dengan PLO. Bulan September, Mesir menawarkan diri
sebagai tuan rumah perundingan awal antara Israel dan wakil-wakil Palestina.
1989
Okt. Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, James Baker, mengajukan rencana lima
butir perdamaian Timur Tengah, sebagai gabungan rencana Israel dan Mesir untuk
melaksanakan pertemuan tiga pihak, yakni Mesir, Israel dan Amerika Serikat guna
mengadakan perundingan Israel dan Palestina.
1990
Agustus Irak menyerbu Kuwait. Ketua PLO Yasser Arafat menyatakan mendukung
Presiden Irak Saddam Hussein. Terjadi lagi perpecahan dan pergeseran persekutuan
antar Arab menjadi dua kubu.
1991
Maret Presiden Amerika Serikat George Bush menyatakan berakhirnya perang teluk
dan membuka kesempatan bagi penyelesian konflik Arab-Israel. 1991 Okt.
Negara-negara Arab dan Israel mengadakan perundingan di Madrid, Spanyol dengan
sponsor Amerika Serikat dan Uni Soviet, untuk menyelesikan masalah konflik
Arab-Israel.
1993
Sept. PLO-Israel menyatakan saling mengakui eksistensi masing-masing dan Israel
memberi hak otonomi kepada PLO kota Yericho dan Gaza. Pengakuan itu mendapat
reaksi kecaman keras dari pihak Radikal Israel maupunkelompok kelompok
Palestina yang tidak setuju.
Pada akhir September 2000, pecah lagi kerusuhan di Tepi Barat dan Jalur
Gaza terutama diwilayah-wilayah yang diduduki tentara Israel. Kerusuhan ini
menimbulkan korban manusia,kehancuran prasarana dan tragedi kemanusiaan. DK PBB
kembali mengeluarkan Resolusi No1397 (2002) yang menyerukan penghentian
tindakan kekerasan dan menegaskan kembali visiPBB yakni terwujudnya dua negara
di wilayah itu: Palestina dan Israel.
Mundurnya Israel dari wilayah-wilayah Arab yang diduduki dan
terselesaikannya masalahpengungsi Palestina secara adil, menjadi inti dari
penyelesaian konflik Arab-Israel. Belum semuaResolusi PBB terlaksana, pecah
perang lagi antara Arab-Israel pada Juli tahun ini. Perang inidiakhiri dengan
Resolusi PBB No 1701 (2006) yang intinya: Israel harus menghentikan
operasimeliter dan menarik diri dari wilayah Lebanon, Hizbullah menghentikan
serangannya ke Israel,dan pembentukan pasukan perdamaian.
Pada 14 April 2009, Utusan khusus PBB untuk Timur Tengah, George Mitchell
menekankanpenyelesaian dua negara bagi konflik antara Israel dan Palestina.
George Mitchell pada saat itubertemu dengan para pejabat penting di
wilayah-wilayah Israel dan Palestina, dan juga Mesir.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar